Alergi Makanan Meningkatkan Perilaku Agresif dan Kriminal

Alergi Makanan Meningkatkan Perilaku Agresif dan Kriminal

Dr Widodo Judarwanto SpA

Kejadian kriminal di kalangan anak sekolah semakin hari semakin meningkat pesat, baik kualitas dan kuantitasnya. Seiring dengan itu angka kejadian alergi di dunia semakin hari semakin meningkat pesat. Ternyata peningkatan kedua fenomena sosial dan kesehatan tersebut berkaitan. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengaruh alergi makanan dapat meningkatkan perilaku kriminal seseorang. Bahkan dalam sebuah penelitian telah ditemukan bahwa dengan melakukan intervensi diet alergi maka pelaku kriminal dapat ditekan. Ternyata sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa alergi makanan sangat berkaitan dengan gangguan perlaku pada anak.

Beberapa penelitian psikososial dan psikobiologis telah mengungkapkan faktor lingkungan sangat berpengaruh  terhadap perilaku kriminal pada seseorang. Lingkungan tersebut bisa berupa fisik, biologis dan sosial. Tetapi kebanyakan orang-orang beresiko biasanya memasuki lingkungan yang sama sehingga berpotensi terjadinya perilaku berbagai kejahatan tersebut.

Faktor lingkungan fisik dan sosial yang beresiko berkembangnya seorang menjadi kriminal adalah tekanan ekonomi yang buruk, perlakuan kasar dan keras sejak usia anak, penelantaran anak, perceraian orang tua, kesibukan orangtua, faktor pemberian nutrisi tertentu, dan kehidupan keluarga yang tidak mematuhi etika hukum, agama dan sosial. Lingkungan yang beresiko lainnya adalah hidup ditengah masyarakat yang dekat dengan perbuatan lriminal seperti pembunuhan, penyiksaan, kekerasan dan lain sebagainya.

Sedangkan lingkungan biologis salah satunya yang saat ini banyak diteliti adalah pola makan apakah berpengaruh terhadap tindak kriminal tersebut. Adanya penelitian yang dilakukan Peter C dkk tahun 1997 cukup mengejutkan. Didapatkan kaitan diet, alergi makanan, intoleransi makanan dan perilaku kriminal di usia muda cukup menjadi informasi dan fakta ilmiah yang menarik dan sangat penting, Meskipun demikian masih belum dapat dijelaskan mengapa beberapa faktor tersebut berkaitan.

Penelitian ini berdasarkan daftar pertanyaan yang ditujukan penduduk pelaku kriminal usia muda untuk memperkirakan proporsi cenderung memiliki gangguan pangan yang bergizi berhubungan alergi dan gangguan perilaku lainnya seperti hiperaktif. Sebuah survei kesehatan terkontrol dan diet dilakukan dengan 100 pelanggar jriminal usia muda dan 100 non-pelanggar. Kelompok pelaku melaporkan angka jauh lebih tinggi dengan keluhan kesehatan yang buruk daripada kelompok non-pelaku. Disarankan bahwa kesehatan gizi pelanggar muda dapat diselidiki sebagai bagian dari persyaratan wajib hadir untuk mempertimbangkan kesehatan fisik dan mental penjahat muda. Penelitian lebih lanjut dibenarkan dalam hubungan antara masalah gizi, kesehatan dan perilaku.  Dari penelitian ini, proporsi penduduk pelaku gigih muda dengan perilaku maladaptif terkait dengan alergi makanan, intoleransi makanan dan masalah gizi diperkirakan 75% sedangkan hanya 18% dari populasi non-pelaku muda juga sama terpengaruh.

Sedangkan Bentin dalam menelitiannya telah mengungkapkan bahwa intervensi dan penghindaran diet tertentu dapat brtprngaruh pada perilaku antisosial, perbuatan bunuh diri dan perbuatan kriminal.

Penelitian lain yang diungkapkan oleh Benneth adalah penanganan penderita alergi makanan dapat mencegah perilaku lriminal dalam kelompok masyatakat tertentu.

Bahkan penulis telah mengadakan penelitian terhadap kelompok anak penderita alergi dengan gangguan saluran cerna setelah dilakukan intervensi diet selama 3 minggu didapatkan beberapa penurunan perilaku emosi, agresif, gangguan tidur dan gangguan konsentrasi seorang anak.

Terdapat beberapa faktor resiko untuk terjadi tindak kekerasan dan kriminal yang dapat diamati sejak usia dini pada seorang anak. Beberapa perilaku tersebut meliputi peningkatan agresifitas, emosi, impulsifitas, hiperaktif, gangguan tidur dan sebagainya. Ternyata banyak faktor resiko tersebut juga terjadi pada penderita alergi dan hipersensitifitas makanan. Belakangan terungkap bahwa alergi atau hipersensitifitas makanan tertentu menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, agresifitas, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, impulsifitas hingga memperberat gejala penderita Autism dan ADHD.

Bila faktor genetik, gangguan fungsi otak, dan diikuti oleh lingkungan fisik, biologis dan sosial yang negatif maka tindak kriminal pada seorang individu lebih gampang terjadi.

Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui faktor resiko dan gangguan perilaku pada usia anak untuk dilakukan pencegahan sejak dini. Bila hal ini dikaitkan dengan berbagai penelitian tersebut tampaknya dengan melakukan deteksi sejak dini gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan mungkin saja dapat mencegah perilaku antisosial dan perilaku kriminal pada seseorang di masa depan.

Agresifitas, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan anti sosial lainnya adalah faktor resiko terjadi prilaku kriminal pada seseorang. Ternyata dalam berbagai penelitian telah terungkap bahwa berbagai faktor resiko terjadinya perilaku kriminal tersebut juga seringkali di sebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan.

Diperlukan penelitian lebih lanjut secara holistik melalui kajian biomolekular, pola genetik, psikobiologis dan psikososial lainnya untuk menyikapi temuan-temuan penting tersebut. Bila nantinya temuan penting tersebut saling melengkapi maka dengan perbaikan pola diet dan perbaikan gejala alergi pada kelompok masyarakat dapat membuat dunia ini lebih aman di masa depan.

HUBUNGAN ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN PERILAKU

Mekanisme bagaimana alergi mengganggu system susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi

ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN.

  • Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia.
  • Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain dan lainnya.
  • Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya.
  • Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

TEORI METABOLISME SULFAT

  • Pada penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur.
  • Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

TEORI PENCERNAAN DAN PERUT (ENTERIC NERVOUS SYSTEM DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY)

Proses alergi dapat mengganggu saluran cerna, gangguan saluran cerna itu sendiri akhirnya dapat mengganggu susunan saraf pusat dan fungsi otak. Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :

  1. KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.
  2. TEORI PELEPASAN OPIOID Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.
  3. TEORI ABDOMINAL EPILEPSI Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.

TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI

  • Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah,
  • Pada penderita alergi didapatkan penurunan hormon kortisol, esterogen dan metabolik. Penurunan hormon kortisol dapat menyebabkan allergy fatigue stresse (kelelahan atau lemas)., sedangkan penurunan hormon metabolik dapat mengakibatkan perubahan berat badan yang bermakna. Hormon lain yang menurun adalah hormon esterogen. Alergi juga dikaitkan dengan peningkatan hormone adrenalin dan progesterone. Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN

Deteksi Dini Gangguan Perilaku Pada Penderita Alergi dan Hipersensitifitas makanan

  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll. GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara/tertawa/berteriak dalam tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk, gelisah saat memulai tidur, gigi gemeretak (beradu gigi), tidur ngorok
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK  CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme (sering membantah)
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)

KOMPLIKASI SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi). Hanya mau makanan yang crispy atau renyah seperti : krupuk, biskuit dan sebagainya. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu atau mengalami Infeksi Telinga. Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

Bila tanda dan gejala gangguan perilaku tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) maka sangat mungkin gangguan perilaku tersebut diperberat oleh karena alergi atau hipersensitifitas makanan.

Penyebab lain yang memperberat gangguan perilaku tersebut adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna

DIAGNOSIS

Bila terdapat tanda dan gejala gangguan perilaku yang berulang tidak sembuh. Bila telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli dan berbagai pemeriksaan tambahan seperti darah, feses, EEG, CT Scan atau MRI tidak ditemukan penyebab pasti kelainannya, maka jangan lupa dipikirkan penyebabnya adalah alergi makanan atau reaksi dari makanan

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis gangguan perilaku yang diperberat alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan gangguan perilaku yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.

Obat

  • Pengobatan gangguan perilaku yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan gangguan perilaku tersebut yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

Daftar pustaka

  • C. Peter; W. Bennett Jonathan Brostoff. The Health of Criminals Related to Behaviour, Food, Allergy and Nutrition: A Controlled Study of 100 Persistent Young Offenders.Journal of Nutritional & Environmental Medicine, Volume 7, Issue 4 December 1997 , 359 – 366
  • BENTON David .The impact of diet on anti-social, violent and criminal behaviour . Neuroscience and biobehavioral reviews   ISSN 0149-7634
  • Jaine Robinson JR, Anne Ferguson AF. Food sensitivity and the nervous system: hyperactivity, addiction and criminal behaviour. Nutr Res Rev. 1992 Jan;5(1):203-23. Bennett, C. P. W., McEwen, L. M., McEwen, H. C., Rose, E. L. The Shipley project: treating food allergy to prevent criminal behaviour in community settings. Journal of Nutritional & Environmental Medicine
  • Judarwanto W. Dietery Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with  Gastrointestinal Allergy. Dipresentasikan pada World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition tanggal 2 – 7 Juli 2004 di Paris Perancis.
  • Clarke TW: The relation of allergy to character problems in children: A survey. Ann. Allergy March-April, 1950, pp. 175- 87
  • Swain A et al: Salicylates, oliogoantigenic diets, and behaviour. Letter. Lancet 2:41-2, 1985.
  • Moyer KE: Allergy & aggression: The physiology of violence. Psychol. Today July, 1975, pp. 77-9.
  • MacKarness R: Eating Dangerously. New York, Harcourt, Brace, Jovanovich, 1976. Schauss AG: Nutrition and antisocial behaviour. Int. Clin. Nutr. Rev. 4(4):172-7, 1984. Allergy induced Behaviour Problems in children. Htpp://www.allergies/wkm/behaviour:
  • Brain allergic in Children.Htpp://www.allergycenter/UCK/allergy. Adams, W. (1981). Lack of behavioral effects from Feingold diet violations. Perceptual and Motor Skills 52, 307–313.
  • American Psychiatric Association (1987). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-III-R, 3rd rev. edn. Washington, D.C.: American Psychiatric Association.
  • Arnold, L. (1976). Causes of hyperactivity and implications for prevention. School Psychology Review 5, 10–22.
  • Barsky, A. J. (1988). Worried Sick: Our Troubled Quest for Wellness, pp. 3–20. Boston, MA: Little & Brown.
  • Beall, J. G. (1973). Food additives and hyperactivity in children. Congressional Record No. S19736, 35401–35407.
  • Bolton, R. (1976). Aggression and hypoglycemia among the Qolla: a study in psychobiological anthropology. In Physiology of Aggression and Implications for Control: an Anthology of Readings, pp. 189–217 [Moyer, K. E., editor]. New York: Raven Press.
  • Cantwell, D. P. (1975). Natural history and prognosis in the hyperactive child syndrome. In The Hyperactive Child: Diagnosis, Management, Current Research, pp. 51–64 [Cantwell, D. P., editor]. New York: Spectrum Publications Inc.
  • Clarke, T. W. (1950). The relation of allergy to character problems in children. Annals of Allergy 8, 175. [OpenURL Query Data]
  • Conners, C. K. (1980). Food Additives and Hyperactive Children. New York: Plenum Press.
  • Conners, C. K. (1981). Artificial colors in the diet and disruptive behaviour: current status of research. In Nutrition and Behavior, pp. 137–143 [Miller, S. A., editor]. Philadelphia, PA: Franklin Institute Press.
  • Conners, C. K. (1989). Feeding the Brain: How Foods Affect Children. New York: Plenum Press.
  • Conners, C. K. & Goyette, C. H. (1976). Progress Report of Studies on Hyperkinesis and Food Additives. Paper presented at Annual Meeting of the Food and Nutrition Liaison Committee. Naples: Nutrition Foundation.
  • Conners, C., Goyette, C. H. & Newman, E. B. (1980). Dose-time effect of artificial colors in hyperactive children. Journal of Learning Difficulties 13, 512–516.
  • Conners, C. K., Goyette, C. H., Southwick, D. A., Lees, J. M. & Andrulonis, P. A. (1976). Food additives and hyperkinesis – controlled double-blind experiment. Pediatrics 58, 154–166.
  • Crook, W. G. (1980). Can what a child eats make him dull, stupid or hyperactive? Journal of Learning Disabilities 13, 281–286.
  • Davison, H. M. (1950). The relation of allergy to character problems in children. Annals of Allergy 8, 175.
  • Dees, S. C. (1954). Neurologic allergy in childhood. Pediatric Clinics of North America 1, 1017–1027.
  • Dews, P. B. (1983). Comments on some major methodological issues affecting diagnosis of the behavioral effects of foods and nutrients. Journal of Psychiatric Research 17, 223–225.
  • Egger, J., Carter, C. M., Graham, P. J., Gumley, D. & Soothill, J. F. (1985). Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet i, 540–545.
  • Feingold, B. F. (1976). Hyperkinesis and learning disabilities linked to the ingestion of artificial food colors and flavors. Journal of Learning Disabilities 9, 551–559. Ferguson, A. (1990). Food sensitivity or self-deception? New England Journal of Medicine 323, 476–478.
  • Franklin, A. J. (1988). Hyperactivity – an allergic disorder? In The Recognition and Management of Food Allergy in Children, pp. 49–57 [Franklin, A. J., editor]. Lancaster: Parthenon.
  • Fredericks, C. (1976). Psycho-nutrition. New York: Grosset & Dunlap. Goyette, C. H., Conners, C. K., Patti, T. A. & Curtis, L. E. (1978). Effects of artificial colors on hyperactive children: a double-blind challenge study. Psychopharmacology Bulletin 14, 39–40.
  • Gray, G. E. (1986). Diet, crime and delinquency: a critique. Nutrition Reviews 44 (Suppl.), 89–94.
  • Gross, M. D. (1984). Effect of sucrose on hyperkinetic children. Pediatrics 74, 876–878.
  • Harley, J. P., Ray, R. S., Tomasi, L., Eichman, P. L., Matthews, C. G., Chun, R., Cleeland, C. S. & Traisman, E. (1978). Hyperkinesis and food additives: testing the Feingold hypothesis. Pediatrics 61, 818–828.
  • Hechtman, L., Weiss, G., Finklestein, J., Werner, A. & Benn, R. (1976). Hyperactives as young adults: preliminary report. Canadian Medical Association Journal 115, 625–630. Hippchen, L. J. (1976). Biochemical approaches to offender rehabilitation. Offender Rehabilitation 1, 115–123.
  • Hippchen, L. J. (1978). The Ecologic-Biochemical Approaches to Treatment of Delinquents and Criminals. New York: Van Nostrand Reinhold.
  • Holborow, P., Elkins, J. & Berry, P. (1981). The effect of the Feingold diet on ‘normal’ school children. Journal of Learning Disabilities 14, 143–147.
  • Hughes, E. C., Weinstein, R. C., Gott, P. S., Binggeli, R. & Whitaker, K. L. (1982). Food sensitivity in attention deficit disorder with hyperactivity (ADD/HA) – a procedure for differential diagnosis. Annals of Allergy 49, 276–280.
  • Kanarek, R. B. & Marks-Kaufman, R. (1991). Nutrition and Behavior: New Perspectives. New York: Van Nostrand Reinhold.
  • Kaplan, B. J., McNicol, J., Conte, R. A. & Moghadam, H. K. (1989). Dietary replacement in preschool-aged hyperactive boys. Pediatrics 83, 7–17.
  • Leung, P. W. & Luk, S. L. (1988). Differences in attention control between ‘clinic-observable’ and ‘reported’ hyperactivity: a preliminary report. Duchess of Ken Children’s Hospital, Hong Kong. Child Care, Health and Development 14, 119–211.
  • Levy, F., Dumbrell, S., Hobbes, G., Ryan, M., Wilton, N. & Woodhill, J. M. (1978). Hyperkinesis and diet: a double-blind crossover trial with a tartrazine challenge. Medical Journal of Australia 1, 61–64.
  • Mattes, J. A. & Giltelman, R. (1981). Effects of artificial food colorings in children with hyperactive symptoms. Archives of General Psychiatry 38, 714–718.
  • Max, B. (1989). This and that: chocolate addiction, the dual pharmacogenetics of asparagus eaters, and the arithmetic of freedom. Trends in Pharmacological Sciences, 10, 390–393.
  • May, C. D. (1974). Food allergy. In Infant Nutrition, 2nd edn., pp. 435–459 [Fomon, S. J., editor]. Philadelphia PA: W. B. Saunders Co.
  • Menzies, I. (1984). Allergic and immunological factors in child and family psychiatry. In Recent Research in Developmental Psychopathology (Journal of Child Psychology and Psychiatry, Book Supplement), pp. 95–109 [Stevenson, J. E. editor].
  • Mitchell, E. A., Aman, M. G., Turbott, S. H. & Manku, M. (1987). Clinical characteristics and serum essential fatty acids in hyperactive children. Clinical Pediatrics 26, 406–411. [OpenURL Query Data]
  • National Institutes of Health Consensus Development Panel (1983). National Institutes of Health consensus development conference statement: defined diets and childhood hyperactivity. American Journal of Clinical Nutrition 37, 161–165
  • Pfeiffer, C. C. (1975). Mental and Elemental Nutrients: a Physician’s Guide to Nutrition and Health Care. New Canaan, CT: Keats Publishing, Inc.
  • Pollock, I. & Warner, J. O. (1990). Effect of artificial food colours on childhood behaviour. Archives of Disease in Childhood 65, 74–77.
  • Prendergast, M., Taylor, E., Rapoport, J. L., Bartko, J., Donnelly, M., Zametkin, A., Ahearn, M. B., Dunn, G. & Wieselberg, H. M. (1988). The diagnosis of childhood hyperactivity: a U.S.-U.K. cross-national study of DSM-III and ICD-9. Journal of Child Psychology and Psychiatry 29, 289–300.
  • Prinz, R. J. (1985). Diet-behaviour research with children: methodological and substantive issues. Advances in Learning and Behavioral Disabilities 4, 181–199.
  • Randolph, T. G. (1945). Fatigue and weakness of allergic origin (allergic toxemia); to be differentiated from ‘nervous fatigue’ or neurasthenia. Annals of Allergy 3, 418–430. Randolph, T. G. (1947). Allergy as a causative factor of fatigue, irritability and behaviour problems of children. Journal of Pediatrics 31, 560–572.
  • Randolph, T. G. & Moss, R. W. (1986). Allergies: Your Hidden Enemy, 4th edn., pp. 15–39, 101–108. Wellingborough: Thorsons Publishing Group.
  • Rapp, D. J. (1978). Does diet affect hyperactivity? Journal of Learning Disabilities 11, 383–389.
  • Rogers, G. S. & Hughes, H. H. (1981). Dietary treatment of children with problematic activity level. Psychological Reports 48, 487–494.
  • Rostain, A. L. (1991). Attention deficit disorders in children and adolescents. Pediatric Clinics of North America 38, 607–635.
  • Rowe, K. S. (1988). Synthetic food colourings and ‘hyperactivity’: a double-blind crossover study. Australian Paediatric Journal 24, 143–147.
  • Rutter, M. (1989). Child psychiatric disorders in ICD-10. Journal of Child Psychology and Psychiatry 30, 499–513.
  • Schoenthaler, S. J. (1985). Nutritional policies and institutional antisocial behaviour. Nutrition Today 20, 16–25.
  • Shannon, W. R. (1922). Neuropathic manifestations in infants and children as a result of anaphylactic reaction to foods contained in their dietary. American Journal of Diseases of Children 24, 89–94.
  • Silbergeld, E. K. & Anderson, S. M. (1982). Artificial food colors and childhood behavior disorders. Bulletin of the New York Academy of Medicine 58, 275–295. Speer, F. (1954). The allergic-tension-fatigue syndrome. Pediatric Clinics of North America 1, 1029–1037.
  • Swanson, J. M. & Kinsbourne, M. (1980). Artificial color and hyperactive behaviour. In Treatment of Hyperactive and Learning Disordered Children: Current Research, pp. 131–149 [Knights, R. M. and Bakker, D. J. editors]. Baltimore, MD: University Park Press.
  • Taylor, E. A. (1986). Childhood hyperactivity. British Journal of Psychiatry 149, 562–573.
  • Taylor, E. A., Schachar, R., Thorley, G. & Wieselberg, M. (1986). Conduct disorder and hyperactivity. I. Separation of hyperactivity and antisocial conduct in British child psychiatric patients. British Journal of Psychiatry 149, 760–767.
  • Thiessen, I. & Mills, L. (1975). The use of megavitamin treatment in children with learning disabilities. Journal of Orthomolecular Psychiatry 4, 288–296.
  • Virkkunen, M. (1983). Insulin secretion during the glucose tolerance test in antisocial personality. British Journal of Psychiatry 142, 589–604.
  • Weiss, B. (1986). Food additives as a source of behavioral disturbances in children. Neurotoxicology 7, 197–208.
  • Wender, E. H. (1986). The food additive-free diet in the treatment of behaviour disorders: a review. Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics 7, 35–42.
  • Williams, J. I., Cram, D. M., Tausig, F. T. & Webster, E. (1978). Relative effects of drugs and diet on hyperactive behaviors: an experimental study. Pediatrics 61, 811–817.
  • Williams, J. I. & Cram, D. M. (1978). Diet in the management of hyperkinesis: a review of the tests of Feingold’s hypotheses. Canadian Psychiatric Association Journal 23, 241–248.
  • World Health Organization (1990). ICD-10, draft of Chapter V: categories F00-F99, mental, behavioural and developmental disorders. Geneva: WHO. Wurtman, J. J. (1983). The Carbohydrate Craver’s Diet. Boston, MA: Houghton-Mifflin.

 

 

supported by

CHILDREN BEHAVOUR CLINIC GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved