Alergi Makanan Meningkatkan Perilaku Agresif dan Kriminal

Alergi Makanan Meningkatkan Perilaku Agresif dan Kriminal

Dr Widodo Judarwanto SpA

Kejadian kriminal di kalangan anak sekolah semakin hari semakin meningkat pesat, baik kualitas dan kuantitasnya. Seiring dengan itu angka kejadian alergi di dunia semakin hari semakin meningkat pesat. Ternyata peningkatan kedua fenomena sosial dan kesehatan tersebut berkaitan. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengaruh alergi makanan dapat meningkatkan perilaku kriminal seseorang. Bahkan dalam sebuah penelitian telah ditemukan bahwa dengan melakukan intervensi diet alergi maka pelaku kriminal dapat ditekan. Ternyata sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa alergi makanan sangat berkaitan dengan gangguan perlaku pada anak.

Beberapa penelitian psikososial dan psikobiologis telah mengungkapkan faktor lingkungan sangat berpengaruh  terhadap perilaku kriminal pada seseorang. Lingkungan tersebut bisa berupa fisik, biologis dan sosial. Tetapi kebanyakan orang-orang beresiko biasanya memasuki lingkungan yang sama sehingga berpotensi terjadinya perilaku berbagai kejahatan tersebut.

Faktor lingkungan fisik dan sosial yang beresiko berkembangnya seorang menjadi kriminal adalah tekanan ekonomi yang buruk, perlakuan kasar dan keras sejak usia anak, penelantaran anak, perceraian orang tua, kesibukan orangtua, faktor pemberian nutrisi tertentu, dan kehidupan keluarga yang tidak mematuhi etika hukum, agama dan sosial. Lingkungan yang beresiko lainnya adalah hidup ditengah masyarakat yang dekat dengan perbuatan lriminal seperti pembunuhan, penyiksaan, kekerasan dan lain sebagainya.

Sedangkan lingkungan biologis salah satunya yang saat ini banyak diteliti adalah pola makan apakah berpengaruh terhadap tindak kriminal tersebut. Adanya penelitian yang dilakukan Peter C dkk tahun 1997 cukup mengejutkan. Didapatkan kaitan diet, alergi makanan, intoleransi makanan dan perilaku kriminal di usia muda cukup menjadi informasi dan fakta ilmiah yang menarik dan sangat penting, Meskipun demikian masih belum dapat dijelaskan mengapa beberapa faktor tersebut berkaitan.

Penelitian ini berdasarkan daftar pertanyaan yang ditujukan penduduk pelaku kriminal usia muda untuk memperkirakan proporsi cenderung memiliki gangguan pangan yang bergizi berhubungan alergi dan gangguan perilaku lainnya seperti hiperaktif. Sebuah survei kesehatan terkontrol dan diet dilakukan dengan 100 pelanggar jriminal usia muda dan 100 non-pelanggar. Kelompok pelaku melaporkan angka jauh lebih tinggi dengan keluhan kesehatan yang buruk daripada kelompok non-pelaku. Disarankan bahwa kesehatan gizi pelanggar muda dapat diselidiki sebagai bagian dari persyaratan wajib hadir untuk mempertimbangkan kesehatan fisik dan mental penjahat muda. Penelitian lebih lanjut dibenarkan dalam hubungan antara masalah gizi, kesehatan dan perilaku.  Dari penelitian ini, proporsi penduduk pelaku gigih muda dengan perilaku maladaptif terkait dengan alergi makanan, intoleransi makanan dan masalah gizi diperkirakan 75% sedangkan hanya 18% dari populasi non-pelaku muda juga sama terpengaruh.

Sedangkan Bentin dalam menelitiannya telah mengungkapkan bahwa intervensi dan penghindaran diet tertentu dapat brtprngaruh pada perilaku antisosial, perbuatan bunuh diri dan perbuatan kriminal.

Penelitian lain yang diungkapkan oleh Benneth adalah penanganan penderita alergi makanan dapat mencegah perilaku lriminal dalam kelompok masyatakat tertentu.

Bahkan penulis telah mengadakan penelitian terhadap kelompok anak penderita alergi dengan gangguan saluran cerna setelah dilakukan intervensi diet selama 3 minggu didapatkan beberapa penurunan perilaku emosi, agresif, gangguan tidur dan gangguan konsentrasi seorang anak.

Terdapat beberapa faktor resiko untuk terjadi tindak kekerasan dan kriminal yang dapat diamati sejak usia dini pada seorang anak. Beberapa perilaku tersebut meliputi peningkatan agresifitas, emosi, impulsifitas, hiperaktif, gangguan tidur dan sebagainya. Ternyata banyak faktor resiko tersebut juga terjadi pada penderita alergi dan hipersensitifitas makanan. Belakangan terungkap bahwa alergi atau hipersensitifitas makanan tertentu menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, agresifitas, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, impulsifitas hingga memperberat gejala penderita Autism dan ADHD.

Bila faktor genetik, gangguan fungsi otak, dan diikuti oleh lingkungan fisik, biologis dan sosial yang negatif maka tindak kriminal pada seorang individu lebih gampang terjadi.

Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui faktor resiko dan gangguan perilaku pada usia anak untuk dilakukan pencegahan sejak dini. Bila hal ini dikaitkan dengan berbagai penelitian tersebut tampaknya dengan melakukan deteksi sejak dini gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan mungkin saja dapat mencegah perilaku antisosial dan perilaku kriminal pada seseorang di masa depan.

Agresifitas, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan anti sosial lainnya adalah faktor resiko terjadi prilaku kriminal pada seseorang. Ternyata dalam berbagai penelitian telah terungkap bahwa berbagai faktor resiko terjadinya perilaku kriminal tersebut juga seringkali di sebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan.

Diperlukan penelitian lebih lanjut secara holistik melalui kajian biomolekular, pola genetik, psikobiologis dan psikososial lainnya untuk menyikapi temuan-temuan penting tersebut. Bila nantinya temuan penting tersebut saling melengkapi maka dengan perbaikan pola diet dan perbaikan gejala alergi pada kelompok masyarakat dapat membuat dunia ini lebih aman di masa depan.

HUBUNGAN ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN PERILAKU

Mekanisme bagaimana alergi mengganggu system susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi

ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN.

  • Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia.
  • Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain dan lainnya.
  • Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya.
  • Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

TEORI METABOLISME SULFAT

  • Pada penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur.
  • Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

TEORI PENCERNAAN DAN PERUT (ENTERIC NERVOUS SYSTEM DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY)

Proses alergi dapat mengganggu saluran cerna, gangguan saluran cerna itu sendiri akhirnya dapat mengganggu susunan saraf pusat dan fungsi otak. Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :

  1. KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.
  2. TEORI PELEPASAN OPIOID Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.
  3. TEORI ABDOMINAL EPILEPSI Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.

TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI

  • Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah,
  • Pada penderita alergi didapatkan penurunan hormon kortisol, esterogen dan metabolik. Penurunan hormon kortisol dapat menyebabkan allergy fatigue stresse (kelelahan atau lemas)., sedangkan penurunan hormon metabolik dapat mengakibatkan perubahan berat badan yang bermakna. Hormon lain yang menurun adalah hormon esterogen. Alergi juga dikaitkan dengan peningkatan hormone adrenalin dan progesterone. Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN

Deteksi Dini Gangguan Perilaku Pada Penderita Alergi dan Hipersensitifitas makanan

  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll. GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara/tertawa/berteriak dalam tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk, gelisah saat memulai tidur, gigi gemeretak (beradu gigi), tidur ngorok
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK  CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme (sering membantah)
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)

KOMPLIKASI SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi). Hanya mau makanan yang crispy atau renyah seperti : krupuk, biskuit dan sebagainya. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu atau mengalami Infeksi Telinga. Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

Bila tanda dan gejala gangguan perilaku tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) maka sangat mungkin gangguan perilaku tersebut diperberat oleh karena alergi atau hipersensitifitas makanan.

Penyebab lain yang memperberat gangguan perilaku tersebut adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna

DIAGNOSIS

Bila terdapat tanda dan gejala gangguan perilaku yang berulang tidak sembuh. Bila telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli dan berbagai pemeriksaan tambahan seperti darah, feses, EEG, CT Scan atau MRI tidak ditemukan penyebab pasti kelainannya, maka jangan lupa dipikirkan penyebabnya adalah alergi makanan atau reaksi dari makanan

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis gangguan perilaku yang diperberat alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan gangguan perilaku yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.

Obat

  • Pengobatan gangguan perilaku yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan gangguan perilaku tersebut yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

Daftar pustaka

  • C. Peter; W. Bennett Jonathan Brostoff. The Health of Criminals Related to Behaviour, Food, Allergy and Nutrition: A Controlled Study of 100 Persistent Young Offenders.Journal of Nutritional & Environmental Medicine, Volume 7, Issue 4 December 1997 , 359 – 366
  • BENTON David .The impact of diet on anti-social, violent and criminal behaviour . Neuroscience and biobehavioral reviews   ISSN 0149-7634
  • Jaine Robinson JR, Anne Ferguson AF. Food sensitivity and the nervous system: hyperactivity, addiction and criminal behaviour. Nutr Res Rev. 1992 Jan;5(1):203-23. Bennett, C. P. W., McEwen, L. M., McEwen, H. C., Rose, E. L. The Shipley project: treating food allergy to prevent criminal behaviour in community settings. Journal of Nutritional & Environmental Medicine
  • Judarwanto W. Dietery Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with  Gastrointestinal Allergy. Dipresentasikan pada World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition tanggal 2 – 7 Juli 2004 di Paris Perancis.
  • Clarke TW: The relation of allergy to character problems in children: A survey. Ann. Allergy March-April, 1950, pp. 175- 87
  • Swain A et al: Salicylates, oliogoantigenic diets, and behaviour. Letter. Lancet 2:41-2, 1985.
  • Moyer KE: Allergy & aggression: The physiology of violence. Psychol. Today July, 1975, pp. 77-9.
  • MacKarness R: Eating Dangerously. New York, Harcourt, Brace, Jovanovich, 1976. Schauss AG: Nutrition and antisocial behaviour. Int. Clin. Nutr. Rev. 4(4):172-7, 1984. Allergy induced Behaviour Problems in children. Htpp://www.allergies/wkm/behaviour:
  • Brain allergic in Children.Htpp://www.allergycenter/UCK/allergy. Adams, W. (1981). Lack of behavioral effects from Feingold diet violations. Perceptual and Motor Skills 52, 307–313.
  • American Psychiatric Association (1987). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-III-R, 3rd rev. edn. Washington, D.C.: American Psychiatric Association.
  • Arnold, L. (1976). Causes of hyperactivity and implications for prevention. School Psychology Review 5, 10–22.
  • Barsky, A. J. (1988). Worried Sick: Our Troubled Quest for Wellness, pp. 3–20. Boston, MA: Little & Brown.
  • Beall, J. G. (1973). Food additives and hyperactivity in children. Congressional Record No. S19736, 35401–35407.
  • Bolton, R. (1976). Aggression and hypoglycemia among the Qolla: a study in psychobiological anthropology. In Physiology of Aggression and Implications for Control: an Anthology of Readings, pp. 189–217 [Moyer, K. E., editor]. New York: Raven Press.
  • Cantwell, D. P. (1975). Natural history and prognosis in the hyperactive child syndrome. In The Hyperactive Child: Diagnosis, Management, Current Research, pp. 51–64 [Cantwell, D. P., editor]. New York: Spectrum Publications Inc.
  • Clarke, T. W. (1950). The relation of allergy to character problems in children. Annals of Allergy 8, 175. [OpenURL Query Data]
  • Conners, C. K. (1980). Food Additives and Hyperactive Children. New York: Plenum Press.
  • Conners, C. K. (1981). Artificial colors in the diet and disruptive behaviour: current status of research. In Nutrition and Behavior, pp. 137–143 [Miller, S. A., editor]. Philadelphia, PA: Franklin Institute Press.
  • Conners, C. K. (1989). Feeding the Brain: How Foods Affect Children. New York: Plenum Press.
  • Conners, C. K. & Goyette, C. H. (1976). Progress Report of Studies on Hyperkinesis and Food Additives. Paper presented at Annual Meeting of the Food and Nutrition Liaison Committee. Naples: Nutrition Foundation.
  • Conners, C., Goyette, C. H. & Newman, E. B. (1980). Dose-time effect of artificial colors in hyperactive children. Journal of Learning Difficulties 13, 512–516.
  • Conners, C. K., Goyette, C. H., Southwick, D. A., Lees, J. M. & Andrulonis, P. A. (1976). Food additives and hyperkinesis – controlled double-blind experiment. Pediatrics 58, 154–166.
  • Crook, W. G. (1980). Can what a child eats make him dull, stupid or hyperactive? Journal of Learning Disabilities 13, 281–286.
  • Davison, H. M. (1950). The relation of allergy to character problems in children. Annals of Allergy 8, 175.
  • Dees, S. C. (1954). Neurologic allergy in childhood. Pediatric Clinics of North America 1, 1017–1027.
  • Dews, P. B. (1983). Comments on some major methodological issues affecting diagnosis of the behavioral effects of foods and nutrients. Journal of Psychiatric Research 17, 223–225.
  • Egger, J., Carter, C. M., Graham, P. J., Gumley, D. & Soothill, J. F. (1985). Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet i, 540–545.
  • Feingold, B. F. (1976). Hyperkinesis and learning disabilities linked to the ingestion of artificial food colors and flavors. Journal of Learning Disabilities 9, 551–559. Ferguson, A. (1990). Food sensitivity or self-deception? New England Journal of Medicine 323, 476–478.
  • Franklin, A. J. (1988). Hyperactivity – an allergic disorder? In The Recognition and Management of Food Allergy in Children, pp. 49–57 [Franklin, A. J., editor]. Lancaster: Parthenon.
  • Fredericks, C. (1976). Psycho-nutrition. New York: Grosset & Dunlap. Goyette, C. H., Conners, C. K., Patti, T. A. & Curtis, L. E. (1978). Effects of artificial colors on hyperactive children: a double-blind challenge study. Psychopharmacology Bulletin 14, 39–40.
  • Gray, G. E. (1986). Diet, crime and delinquency: a critique. Nutrition Reviews 44 (Suppl.), 89–94.
  • Gross, M. D. (1984). Effect of sucrose on hyperkinetic children. Pediatrics 74, 876–878.
  • Harley, J. P., Ray, R. S., Tomasi, L., Eichman, P. L., Matthews, C. G., Chun, R., Cleeland, C. S. & Traisman, E. (1978). Hyperkinesis and food additives: testing the Feingold hypothesis. Pediatrics 61, 818–828.
  • Hechtman, L., Weiss, G., Finklestein, J., Werner, A. & Benn, R. (1976). Hyperactives as young adults: preliminary report. Canadian Medical Association Journal 115, 625–630. Hippchen, L. J. (1976). Biochemical approaches to offender rehabilitation. Offender Rehabilitation 1, 115–123.
  • Hippchen, L. J. (1978). The Ecologic-Biochemical Approaches to Treatment of Delinquents and Criminals. New York: Van Nostrand Reinhold.
  • Holborow, P., Elkins, J. & Berry, P. (1981). The effect of the Feingold diet on ‘normal’ school children. Journal of Learning Disabilities 14, 143–147.
  • Hughes, E. C., Weinstein, R. C., Gott, P. S., Binggeli, R. & Whitaker, K. L. (1982). Food sensitivity in attention deficit disorder with hyperactivity (ADD/HA) – a procedure for differential diagnosis. Annals of Allergy 49, 276–280.
  • Kanarek, R. B. & Marks-Kaufman, R. (1991). Nutrition and Behavior: New Perspectives. New York: Van Nostrand Reinhold.
  • Kaplan, B. J., McNicol, J., Conte, R. A. & Moghadam, H. K. (1989). Dietary replacement in preschool-aged hyperactive boys. Pediatrics 83, 7–17.
  • Leung, P. W. & Luk, S. L. (1988). Differences in attention control between ‘clinic-observable’ and ‘reported’ hyperactivity: a preliminary report. Duchess of Ken Children’s Hospital, Hong Kong. Child Care, Health and Development 14, 119–211.
  • Levy, F., Dumbrell, S., Hobbes, G., Ryan, M., Wilton, N. & Woodhill, J. M. (1978). Hyperkinesis and diet: a double-blind crossover trial with a tartrazine challenge. Medical Journal of Australia 1, 61–64.
  • Mattes, J. A. & Giltelman, R. (1981). Effects of artificial food colorings in children with hyperactive symptoms. Archives of General Psychiatry 38, 714–718.
  • Max, B. (1989). This and that: chocolate addiction, the dual pharmacogenetics of asparagus eaters, and the arithmetic of freedom. Trends in Pharmacological Sciences, 10, 390–393.
  • May, C. D. (1974). Food allergy. In Infant Nutrition, 2nd edn., pp. 435–459 [Fomon, S. J., editor]. Philadelphia PA: W. B. Saunders Co.
  • Menzies, I. (1984). Allergic and immunological factors in child and family psychiatry. In Recent Research in Developmental Psychopathology (Journal of Child Psychology and Psychiatry, Book Supplement), pp. 95–109 [Stevenson, J. E. editor].
  • Mitchell, E. A., Aman, M. G., Turbott, S. H. & Manku, M. (1987). Clinical characteristics and serum essential fatty acids in hyperactive children. Clinical Pediatrics 26, 406–411. [OpenURL Query Data]
  • National Institutes of Health Consensus Development Panel (1983). National Institutes of Health consensus development conference statement: defined diets and childhood hyperactivity. American Journal of Clinical Nutrition 37, 161–165
  • Pfeiffer, C. C. (1975). Mental and Elemental Nutrients: a Physician’s Guide to Nutrition and Health Care. New Canaan, CT: Keats Publishing, Inc.
  • Pollock, I. & Warner, J. O. (1990). Effect of artificial food colours on childhood behaviour. Archives of Disease in Childhood 65, 74–77.
  • Prendergast, M., Taylor, E., Rapoport, J. L., Bartko, J., Donnelly, M., Zametkin, A., Ahearn, M. B., Dunn, G. & Wieselberg, H. M. (1988). The diagnosis of childhood hyperactivity: a U.S.-U.K. cross-national study of DSM-III and ICD-9. Journal of Child Psychology and Psychiatry 29, 289–300.
  • Prinz, R. J. (1985). Diet-behaviour research with children: methodological and substantive issues. Advances in Learning and Behavioral Disabilities 4, 181–199.
  • Randolph, T. G. (1945). Fatigue and weakness of allergic origin (allergic toxemia); to be differentiated from ‘nervous fatigue’ or neurasthenia. Annals of Allergy 3, 418–430. Randolph, T. G. (1947). Allergy as a causative factor of fatigue, irritability and behaviour problems of children. Journal of Pediatrics 31, 560–572.
  • Randolph, T. G. & Moss, R. W. (1986). Allergies: Your Hidden Enemy, 4th edn., pp. 15–39, 101–108. Wellingborough: Thorsons Publishing Group.
  • Rapp, D. J. (1978). Does diet affect hyperactivity? Journal of Learning Disabilities 11, 383–389.
  • Rogers, G. S. & Hughes, H. H. (1981). Dietary treatment of children with problematic activity level. Psychological Reports 48, 487–494.
  • Rostain, A. L. (1991). Attention deficit disorders in children and adolescents. Pediatric Clinics of North America 38, 607–635.
  • Rowe, K. S. (1988). Synthetic food colourings and ‘hyperactivity’: a double-blind crossover study. Australian Paediatric Journal 24, 143–147.
  • Rutter, M. (1989). Child psychiatric disorders in ICD-10. Journal of Child Psychology and Psychiatry 30, 499–513.
  • Schoenthaler, S. J. (1985). Nutritional policies and institutional antisocial behaviour. Nutrition Today 20, 16–25.
  • Shannon, W. R. (1922). Neuropathic manifestations in infants and children as a result of anaphylactic reaction to foods contained in their dietary. American Journal of Diseases of Children 24, 89–94.
  • Silbergeld, E. K. & Anderson, S. M. (1982). Artificial food colors and childhood behavior disorders. Bulletin of the New York Academy of Medicine 58, 275–295. Speer, F. (1954). The allergic-tension-fatigue syndrome. Pediatric Clinics of North America 1, 1029–1037.
  • Swanson, J. M. & Kinsbourne, M. (1980). Artificial color and hyperactive behaviour. In Treatment of Hyperactive and Learning Disordered Children: Current Research, pp. 131–149 [Knights, R. M. and Bakker, D. J. editors]. Baltimore, MD: University Park Press.
  • Taylor, E. A. (1986). Childhood hyperactivity. British Journal of Psychiatry 149, 562–573.
  • Taylor, E. A., Schachar, R., Thorley, G. & Wieselberg, M. (1986). Conduct disorder and hyperactivity. I. Separation of hyperactivity and antisocial conduct in British child psychiatric patients. British Journal of Psychiatry 149, 760–767.
  • Thiessen, I. & Mills, L. (1975). The use of megavitamin treatment in children with learning disabilities. Journal of Orthomolecular Psychiatry 4, 288–296.
  • Virkkunen, M. (1983). Insulin secretion during the glucose tolerance test in antisocial personality. British Journal of Psychiatry 142, 589–604.
  • Weiss, B. (1986). Food additives as a source of behavioral disturbances in children. Neurotoxicology 7, 197–208.
  • Wender, E. H. (1986). The food additive-free diet in the treatment of behaviour disorders: a review. Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics 7, 35–42.
  • Williams, J. I., Cram, D. M., Tausig, F. T. & Webster, E. (1978). Relative effects of drugs and diet on hyperactive behaviors: an experimental study. Pediatrics 61, 811–817.
  • Williams, J. I. & Cram, D. M. (1978). Diet in the management of hyperkinesis: a review of the tests of Feingold’s hypotheses. Canadian Psychiatric Association Journal 23, 241–248.
  • World Health Organization (1990). ICD-10, draft of Chapter V: categories F00-F99, mental, behavioural and developmental disorders. Geneva: WHO. Wurtman, J. J. (1983). The Carbohydrate Craver’s Diet. Boston, MA: Houghton-Mifflin.

 

 

supported by

CHILDREN BEHAVOUR CLINIC GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Penanganan Gangguan Bahasa Spesifik (Specific Language Impairment atau SLI), Gangguan Belajar Pada Anak

 Penanganan Gangguan Bahasa Spesifik (Specific Language Impairment atau SLI), Gangguan Belajar Pada Anak

Gangguan bahasa spesifik atau Specific Language Impairment (SLI)) adalah gangguan perkembangan yang mempengaruhi penguasaan bahasa dan penggunaan. Gangguan Bahasa spesifik (SLI) didiagnosis ketika bahasa anak tidak berkembang secara normal, secara fisik terdapat kelainan bicara, gangguan autistik,  atau kerusakan otak atau gangguan pendengaran.

Survei epidemiologi, di Amerika Serikat dan Kanada, memperkirakan prevalensi SLI dalam usia 5 tahun sekitar 7 persen. Namun, penelitian tidak mengadopsi ‘perbedaan’ ketat kriteria Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders atau ICD-10 , SLI didiagnosis jika anak mtercatat di bawah cut-off pada tes bahasa standar, tetapi memiliki IQ nonverbal dari 90 atau di atas dan tidak ada kriteria eksklusif lainnya.

Studi longitudinal menunjukkan bahwa sebagian besar masalah diselesaikan dalam 5 tahun sekitar 40% dari anak usia 4 tahun yang mengalami  SLI. Namun, bagi anak yang masih memiliki kesulitan bahasa signifikan pada tingkat sekolah rendah yang melek huruf, bahkan untuk anak-anak yang menerima bantuan spesialis dan pencapaian pendidikan biasanya miskin. Hasil Buruk yang paling umum dalam kasus di mana pemahaman serta pengaruh bahasa ekspresif.

SLI dikaitkan dengan tingginya tingkat gangguan kejiwaan . Misalnya, Conti-Ramsden dan Botting (2004) menemukan bahwa 64% dari sampel berusia 11 tahun dengan SLI menunjukkan di atas ambang klinis pada kuesioner untuk kejiwaan kesulitan, dan 36% terganggu, dibandingkan dengan 12% anak-anak kontrol. Dalam jangka panjang, studi hasil dewasa anak-anak dengan SLI menemukan peningkatan tingkat pengangguran, isolasi sosial dan gangguan kejiwaan. Namun , kebanyakan studi difokuskan pada anak-anak dengan masalah berat, di mana pemahaman serta bahasa ekspresif terpengaruh. Hasil yang lebih baik yang ditemukan anak-anak yang memiliki kesulitan lebih ringan dan tidak memerlukan penyediaan pendidikan khusus.

Genetik dan lingkungan

Sekarang secara umum SLI adalah kelainan genetik. Bukti kuat ditunjukkan oleh studi anak kembar. Dua anak kembar tumbuh bersama-sama dihadapkan pada lingkungan rumah yang sama, namun mungkin berbeda secara radikal dalam keterampilan bahasa mereka. Hasil yang berbeda tersebut, terlihat hampir secara umum di fraternal (non-identik) kembar, yang secara genetik berbeda. Kembar identik berbagi gen yang sama dan cenderung jauh lebih mirip dalam kemampuan bahasa. Ada dapat beberapa variasi dalam tingkat keparahan dan ketekunan SLI pada kembar identik, yang menunjukkan bahwa faktor lingkungan mempengaruhi jalannya gangguan, tetapi tidak biasa untuk menemukan anak dengan SLI yang memiliki kembar identik dengan bahasa yang normal. SLI biasanya tidak disebabkan oleh mutasi pada gen tunggal. Bukti saat ini menunjukkan bahwa ada banyak gen yang berbeda yang dapat mempengaruhi pembelajaran bahasa, dan hasil SLI ketika seorang anak mewarisi kombinasi yang sangat merugikan dari faktor risiko, masing-masing yang mungkin hanya memiliki efek kecil.  Hanya segelintir non-genetik faktor telah ditemukan selektif berdampak pada perkembangan bahasa pada anak-anak. Kemudian anak-lahir di keluarga besar berada pada risiko lebih besar daripada sebelumnya lahir.

Teori kausal

Banyak penelitian telah difokuskan pada mencoba untuk mengidentifikasi apa yang membuat belajar bahasa sehingga sulit bagi beberapa anak. Sebuah kesenjangan besar antara teori-teori yang mengaitkan kesulitan untuk masalah tingkat rendah dengan proses pendengaran temporal, dan mereka yang mengusulkan ada defisit dalam sistem belajar bahasa khusus. Defisit dalam aspek-aspek tertentu dari memori . Ini bisa sulit untuk memilih antara teori karena tidak selalu membuat prediksi khas, dan ada perbedaan di antara anak-anak dengan SLI . Hal oini juga menunjukkan bahwa  SLI hanya mungkin timbul ketika lebih dari satu defisit yang hadir.

Pria lebih dipengaruhi oleh SLI daripada perempuan. Dalam sampel klinis, rasio jenis kelamin laki-laki yang terkena dampak: perempuan adalah sekitar 3 atau 4:1. Alasan untuk hubungan ini tidak diketahui: tidak ada hubungan telah ditemukan gen pada kromosom seks . Keterampilan motorik buruk biasanya ditemukan pada anak-anak dengan SLI. Pemeriksaan scan otak biasanya tidak menunjukan kelainan yang jelas pada anak-anak dengan SLI, meskipun perbandingan kuantitatif telah menemukan perbedaan dalam ukuran otak atau proporsi relatif putih atau materi abu-abu di daerah tertentu. Dalam beberapa kasus, oditemukan girus otak yang tidak biasa. Sampai saat ini, tidak ada yang konsisten bermakna bahwa kelainan  saraf’ SLI telah ditemukan. Perbedaan dalam otak anak-anak dengan SLI dibandingkan anak biasanya berkembang yang halus dan mungkin tumpang tindih dengan pola atipikal lainnya terlihat pada gangguan perkembangan saraf .

Gangguan Bahasa spesifik (SLI) didiagnosis ketika seorang anak telah menunda atau teratur perkembangan bahasa tanpa alasan yang jelas. Biasanya indikasi pertama dari SLI adalah bahwa anak lebih dari biasa dalam memulai untuk berbicara dan kemudian tertunda dalam menempatkan kata-kata bersama-sama untuk membentuk kalimat. Bahasa yang dipakai mungkin matang seluruh disamakan dengan suatu gangguan bahasa ekspresif. Dalam banyak anak dengan SLI, pemahaman bahasa , atau bahasa reseptif, juga terganggu, meskipun ini mungkin tidak jelas kecuali anak diberi penilaian formal.  Meskipun kesulitan dengan penggunaan dan pemahaman kalimat kompleks adalah fitur umum dari SLI, kriteria diagnostik mencakup berbagai masalah, dan untuk beberapa anak aspek lain dari bahasa yang bermasalah . Secara umum, SLI istilah disediakan untuk anak-anak yang kesulitan bahasa menetap sampai usia sekolah, dan sehingga tidak akan diterapkan untuk balita yang terlambat untuk mulai berbicara, sebagian besar dari mereka mengejar ketinggalan dengan peer group mereka setelah terlambat mulai.

Terminologi untuk gangguan bahasa anak-anak sangat luas dan membingungkan, dengan label banyak yang tumpang tindih, tetapi belum tentu identik secara medis dengan fakta yang ada. Dalam bagian kebingungan ini mencerminkan ketidakpastian tentang batas-batas SLI, dan keberadaan subtipe yang berbeda. Secara historis, istilah” perkembangan dysphasia” atau” perkembangan aphasia” digunakan untuk menggambarkan anak-anak dengan gambaran klinis SLI.  Istilah ini telah, bagaimanapun, sebagian besar telah ditinggalkan, karena mereka menunjukkan kesejajaran dengan orang dewasa dengan aphasia . Pandangan ini mungkin menyesatkan, karena SLI tidak disebabkan oleh kerusakan otak. Di kalangan medis, istilah-istilah seperti perkembangan spesifik gangguan bahasa yang sering digunakan, tetapi ini memiliki kelemahan yang bertele-tele, dan juga ditolak oleh beberapa orang yang berpikir SLI tidak harus dilihat sebagai ‘gangguan’. Dalam sistem pendidikan Inggris , bicara, bahasa dan kebutuhan komunikasi (SLCN) saat ini adalah sebuah istilah pilihan, tapi ini jauh lebih luas daripada SLI, dan termasuk anak-anak dengan kesulitan bicara dan bahasa yang timbul dari berbagai penyebab.

Subtipe (Rapin dan Allen 1983)

Meskipun kebanyakan ahli sepakat bahwa anak-anak dengan SLI cukup bervariasi, ada kesepakatan sedikit tentang cara terbaik untuk subtipe mereka.  Tidak ada sistem klasifikasi diterima secara luas. Pada tahun 1983 Rapin dan Allen mengusulkan klasifikasi gangguan perkembangan bahasa didasarkan pada linguistik fitur gangguan bahasa, yang kemudian diperbarui oleh Rapin. Rapin adalah seorang ahli saraf anak, dan ia mengacu pada subtipe yang berbeda sebagai ‘ ‘sindrom, banyak dari mereka yang berasal dari perspektif pendidikan atau pidato-bahasa terapi menolak jenis label medis, dan berpendapat bahwa tidak ada garis pemisah yang jelas antara variasi SLI dan normal. Meskipun para ahli sebagian besar akan setuju bahwa anak-anak dengan karakteristik dari subtipe Rapin dapat diidentifikasi, ada banyak kasus yang kurang mudah untuk mengkategorikan, dan ada juga bukti bahwa kategorisasi dapat berubah dari waktu ke waktu.

Terdapat tiga kategori besar:

  • Gangguan perkembangan bahasa reseptif / ekspresif
  1. Receptive/expressive phonologic/syntactic deficit syndrome. Ini adalah bentuk paling umum dari SLI, di mana masalah anak yang paling jelas adalah kecenderungan untuk berbicara dalam kalimat pendek sederhana, dengan penghilangan beberapa gramatikal fitur, seperti masa lalu tegang-ed.  Hal ini untuk melihat  produksi suara dan bicara ketika anak masih muda. Misalnya, kelompok konsonan dapat dikurangi, sehingga ‘string’ diucapkan sebagai ‘ting’. Kosakata sering terbatas, dengan kecenderungan untuk menggunakan istilah ‘umum semua-tujuan’, bukan kata-kata yang lebih spesifik.
  2. Verbal auditory agnosia. Ini adalah bentuk yang sangat jarang dari gangguan bahasa, di mana anak tampak tidak dapat memahami suara bicara. Ini biasanya terjadi sebagai gejala Landau-Kleffner syndrome , dalam hal diagnosis SLI tidak akan sesuai, karena ada asal neurologis dikenal dari kesulitan bahasa.
  • Expressive developmental language disorder syndromes
  1. Perkembangan Verbal dyspraxia atau Developmental verbal dyspraxia (DVD). Pada anak dengan DVD, pemahaman yang memadai; timbulnya kemampuan bicara sangat tertunda dan sangat terbatas dengan gangguan produksi suara bicara dan ucapan-ucapan singkat. Produksi bicara yang buruk tidak dapat dijelaskan dalam hal kerusakan struktural atau neurologis dari artikulator . Ada banyak pertentangan tentang kriteria diagnostik, namun label yang paling sering digunakan untuk anak-anak yang menurun tajam kejelasan ketika mereka mencoba ucapan-ucapan yang kompleks, dibandingkan dengan ketika mereka memproduksi suara individu atau suku kata . Fitur kunci lain adalah inkonsistensi produksi ujaran suara dari satu kesempatan yang lain. Meskipun istilah ‘dyspraxia’ menunjukkan gangguan output yang murni,  sebagian anak-anak mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas yang melibatkan mental memanipulasi suara pidato, seperti kesadaran fonologi tugas. Anak-anak dengan dyspraxia verbal juga biasanya memiliki masalah melek huruf besar, dan bahasa reseptif tingkat mungkin buruk pada tes kosa kata dan tata bahasa
  2. Phonologic programming deficit syndrome. Anak berbicara dalam ucapan panjang tapi kurang dimengerti, memproduksi apa yang terdengar seperti ocehan . Di luar kelompok Rapin itu, sedikit yang telah ditulis tentang subtipe, yang umumnya tidak diakui dalam kerangka diagnostik.
  • Higher order processing disorders
  • Lexical deficit disorder.Anak memiliki kata menemukan masalah dan kesulitan menempatkan ide-ide dalam kata-kata. Ada pemahaman yang buruk untuk pidato terhubung. Sekali lagi, ada sedikit penelitian tentang subtipe ini, yang tidak diakui secara luas.
  • Semantic-pragmatic deficit disorder. Anak berbicara dalam ucapan fasih dan dengan bentuk bahasa yang baik dengan artikulasi yang memadai; isi bahasa baik, pemahaman mungkin tidak baik, penggunaan bahasa yang aneh, anak mungkin mengalami obrolan tanpa henti, menjadi miskin pada gilirannya berkomunijkasi dalam percakapan dan mempertahankan sebuah topik . Telah ada banyak kontroversi tentang kategori, yang disebut bahasa penurunan pragmatis (PLI). Perdebatan berpusat atas pertanyaan apakah itu adalah subtipe dari SLI, bagian dari spektrum autis, atau kondisi yang terpisah.

Hubungan dengan gangguan perkembangan saraf lainnya

Meskipun buku teks menarik batas yang jelas antara gangguan perkembangan saraf yang berbeda, ada banyak perdebatan tentang tumpang tindih antara mereka.  Banyak anak dengan SLI memenuhi kriteria diagnostik untuk disleksia perkembangan ,  dan lain-lain memiliki fitur autisme .

Diagnosis

  • Tidak ada tes biologis untuk SLI.
  • Ada tiga poin yang harus dipenuhi untuk diagnosis SLI:
  1. Anak memiliki kesulitan bahasa yang mengganggu kehidupan sehari-hari atau kemajuan akademik
  2. Penyebab lain dikecualikan: masalah tidak dapat dijelaskan dalam hal gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan secara umum, autisme , atau kesulitan fisik dalam berbicara
  3. Kinerja pada tes bahasa standar adalah jauh di bawah tingkat usia

Ada variasi dalam bagaimana kriteria terakhir ini diimplementasikan. Tombin et al. (1996) mengusulkan kriteria EpiSLI, berdasarkan lima skor komposit mewakili kinerja dalam tiga domain bahasa (kosakata, tata bahasa, dan narasi) dan dua modalitas (pemahaman dan produksi). Anak mencetak gol di 10% terendah pada dua atau lebih nilai komposit yang diidentifikasi memiliki gangguan bahasa.

Penilaian

  • Penilaian biasanya akan mencakup wawancara dengan pengasuh anak, observasi anak dalam pengaturan terstruktur, tes pendengaran, dan tes standar bahasa dan kemampuan nonverbal. Ada berbagai penilaian bahasa dalam bahasa Inggris. Beberapa dibatasi untuk digunakan oleh pidato dan profesional bahasa (terapis atau garam di Inggris, pidato bahasa patolog, SLPs, di Amerika Serikat dan Australia). Sebuah tes yang umum digunakan untuk diagnosis SLI adalah Evaluasi klinis Fundamental Bahasa (CELF). Penilaian yang dapat diselesaikan oleh orang tua atau guru dapat berguna untuk mengidentifikasi anak-anak yang mungkin membutuhkan lebih mendalam evaluasi. The Screening Grammar dan Fonologi (GAPS) uji cepat (sepuluh menit) sederhana dan akurat skrining tes yang dikembangkan dan standar di Inggris. Sangat cocok untuk anak-anak dari 3, 4 sampai 6, 8 tahun, bulan dan dapat dikelola oleh para profesional dan non-profesional (termasuk orang tua) sama, dan telah dibuktikan sangat akurat (98% akurasi) dalam mengidentifikasi anak gangguan yang membutuhkan bantuan spesialis vs non-gangguan anak. Hal ini membuat berpotensi tes layak untuk penyaringan.’The Children’s Communication Checklist CCC–2” adalah kuesioner orangtua yang cocok untuk menguji kemampuan bahasa di sekolah-anak usia.

Gangguan Belajar

Gangguan Belajar (Learning Disorder) adalah suatu gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses, menganalisis atau menyimpan informasi. Anak dengan Gangguan Belajar mungkin mempunyai tingkat intelegensia yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya, tetapi seringberjuang untuk belajar secepat orang di sekitar mereka. Masalah yang terkait dengan kesehatan mental dan gangguan belajar yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, mengingat, penalaran, serta keterampilan motorik dan masalah dalam matematika.

Pengertian gangguan belajar secara bahasa adalah masalah yang dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menerima, memproses, menganalisis dan menyimpan informasi. Sedangkan pengertian yang diberikan oleh National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mengenai gangguan belajar adalah suatu kumpulan dengan bermacam-macam gangguan yang mengakibatkan kesulitan dalam mendengar, berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan persoalan.

Gangguan belajar termasuk klasifikasi beberapa gangguan fungsi di mana seseorang memiliki kesulitan belajar dengan cara yang khas, biasanya disebabkan oleh faktor yang tidak diketahui. Istilah Ketidakmampuan belajar dan gangguan belajar sering digunakan secara bergantian, keduanya berbeda. Ketidakmampuan belajar adalah ketika seseorang memiliki masalah belajar yang signifikan di bidang akademis. Masalah-masalah ini, bagaimanapun, tidak cukup untuk menjamin diagnosis resmi. Gangguan belajar, di sisi lain, adalah diagnosis klinis resmi, dimana individu memenuhi kriteria tertentu, sebagaimana ditentukan oleh seorang profesional (psikolog, dokter anak, dll) Perbedaannya adalah dalam tingkat, frekuensi, dan intensitas gejala yang dilaporkan dan masalah, dan dengan demikian keduanya tidak boleh bingung.

Faktor yang tidak diketahui adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima dan memproses informasi. Gangguan ini bisa membuat masalah bagi seseorang untuk belajar dengan cepat atau dalam cara yang sama seperti seseorang yang tidak terpengaruh oleh ketidakmampuan belajar. Orang dengan ketidakmampuan belajar mengalami kesulitan melakukan jenis tertentu keterampilan atau menyelesaikan tugas jika dibiarkan mencari hal-hal dengan sendirinya atau jika diajarkan dengan cara konvensional.

Beberapa bentuk ketidakmampuan belajar tidak dapat disembuhkan.  Namun, dengan tepat kognitif / akademik intervensi, ternyata dapat diatasi. Individu dengan ketidakmampuan belajar dapat menghadapi tantangan unik yang sering meresap selama kehidupan.. Tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kecacatan, intervensi dapat digunakan untuk membantu individu mempelajari strategi yang akan mendorong kesuksesan di masa mendatang. Beberapa intervensi bisa sangat sederhana, sementara yang lain yang rumit dan kompleks. Guru dan orang tua akan menjadi bagian dari intervensi dalam hal bagaimana mereka membantu individu dalam berhasil menyelesaikan tugas yang berbeda. Psikolog sekolah cukup sering membantu untuk merancang intervensi, dan mengkoordinasikan pelaksanaan intervensi dengan guru dan orang tua. Dukungan sosial meningkatkan pembelajaran bagi siswa dengan ketidakmampuan belajar.

Hal ini tidak berarti anak memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Untuk mengetahui apakah anak sedang mengalami kesulitan dalam belajar bisa dilihat dari waktu yang dibutuhkan dalam memahami suatu persoalan di buku. Dan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan otak anak dalam mengalahkan kesulitan belajarnya bisa dilihat dari hasil tes IQnya.

Anak-anak dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Mereka berusaha lebih daripada teman-teman mereka, tetapi tidak mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. Demikian pula, Learning Disorderyang tidak di terapi dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang besar untuk orang dewasa.

Penanganan

  • Intervensi biasanya dilakukan oleh terapis bicara dan bahasa, yang menggunakan berbagai teknik untuk merangsang pembelajaran bahasa.
  • Di masa lalu, ada cara untuk eksplorasi secara berlebihanterhadap  anak dalam latihan tata bahasa, menggunakan imitasi dan elisitasi metode, tetapi metode tersebut saat ini tidak digunakan ketika menjadi jelas bahwa ada generalisasi sedikit situasi sehari-hari.
  • Pendekatan kontemporer meningkatkan pembangunan struktur bahasa lebih cenderung mengadopsi ‘lingkungan’ metode, di mana intervensi yang terjalin ke episode alami komunikasi, dan terapis didasarkan pada ucapan anak, bukan mendikte apa yang akan dibicarakan.
  • Selain itu, telah terjadi pindah dari fokus semata-mata pada tata bahasa dan fonologi terhadap intervensi yang mengembangkan penggunaan sosial anak-anak dari bahasa , sering bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang dapat mencakup biasanya berkembang serta bahasa-gangguan rekan-rekan.
  • Cara lain di mana pendekatan modern untuk remediasi berbeda dari masa lalu adalah bahwa orang tua lebih mungkin untuk terlibat langsung, terutama dengan anak-anak prasekolah.
  • Sebuah pendekatan radikal yang berbeda telah dikembangkan oleh Tallal dan rekan, yang telah menyusun intervensi berbasis komputer, Cepat forword , yang melibatkan pelatihan yang berkelanjutan dan intensif pada komponen tertentu dari bahasa dan pengolahan pendengaran. Teori yang mendasari pendekatan ini menyatakan bahwa kesulitan bahasa yang disebabkan oleh kegagalan untuk membuat halus diskriminasi pendengaran dalam dimensi temporal, dan komputerisasi materi pelatihan yang dirancang untuk mempertajam ketajaman persepsi.
  • Untuk semua jenis intervensi, ada uji coba terkontrol secara memadai beberapa yang memungkinkan seseorang untuk menilai kemanjuran klinis. Secara umum, di mana penelitian telah dilakukan, hasilnya telah mengecewakan. Meskipun beberapa hasil yang lebih positif telah dilaporkan.
  • Pada tahun 2010, tinjauan sistematis dari uji klinis menilai pendekatan FastForword diterbitkan, dan dilaporkan tidak ada keuntungan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol

Referensi

  • “What are Learning Disabilities?”. The National Center for Learning Disabilities. 4 March 2009. http://www.ncld.org/ld-basics/ld-explained/basic-facts/what-are-learning-disabilities.
  • Rourke, B. P. (1989). Nonverbal learning disabilities: The syndrome and the model. New York: Guilford Press.
  • Gallego, Margaret A., Grace Zamora Durán, and Elba I. Reyes. 2006. “It Depends: A Sociohistorical Account of the Definition and Methods of Identification of Learning Disabilities.” Teachers College Record 108(11):2195-2219.
  • Bishop, D ; Norbury, C. F. (2008). “Speech and language impairments”. In Anita Thapar; Sir Michael Rutter; Bishop, Dorothy ; Daniel Pine; Scott, Steven M.; Jim Stevenson; Taylor, Eric; Eds. Rutter’s Child and Adolescent Psychiatry. Oxford: Wiley-Blackwell. pp. 782–801
  • Bishop, D. (1997). Uncommon understanding: development and disorders of language comprehension in children. East Sussex: Psychology Press.
  • Donna J. Thal; Jeanette Katich; (1996). “Predicaments in early identification of specific language impairment : does the early bird always catch the worm?”. In Donna J. Thal; Kevin N. Cole; Dale, Philip S.. Assessment of Communication and Language (Communication and Language Intervention Series). Brookes Publishing Company. pp. 1–28.
  • Ingram TT, Reid JF (June 1956). “Developmental aphasia observed in a department of child psychiatry”. Arch. Dis. Child. 31 (157): 161–72.
  • Bishop, D. V. M (2004). “Specific language impairment: diagnostic dilemma”. In Hans Van Balkom; Verhoeven, Ludo Th. Classification of developmental language disorders: theoretical issues and clinical implications. Hillsdale, N.J: Lawrence Erlbaum. pp. 309–326.
  • Rapin, I., & Allen, D. (1983). Developmental language disorders: nosologic considerations. In U. Kirk (Ed.), Neuropsychology of language, reading, and spelling (pp. 155–184). New York: Academic Press.
  • Rapin I (September 1996). “Practitioner review: developmental language disorders: a clinical update”. J Child Psychol Psychiatry 37 (6): 643–55
  • Dale, P. S., & Cole, K. N. (1991). What’s normal? Specific language impairment in an individual differences perspective. Language, Speech and Hearing Services in Schools, 22, 80–83.
  • Conti-Ramsden G, Botting N (October 1999). “Classification of children with specific language impairment: longitudinal considerations”. J. Speech Lang. Hear. Res. 42 (5): 1195–204.
  • Leonard, Laurence B. (1998). Children with specific language impairment. Cambridge, Mass: The MIT Press
  • Rice, M. L.; Bode, J. V. (1993). “GAPS in the verb lexicons of children with specific language impairment”. First Language 13 (37): 113–131.
  • Leonard LB (May 2009). “Is expressive language disorder an accurate diagnostic category?”. Am J Speech Lang Pathol 18 (2): 115–23.
  • Hill EL (2001). “Non-specific nature of specific language impairment: a review of the literature with regard to concomitant motor impairments”. Int J Lang Commun Disord 36 (2): 149–71.
  • ^ Wells, Bill; Stackhouse, Joy (1997). Children’s speech and literacy difficulties: a psycholinguistic framework. San Diego, Calif: Singular Pub. Group.
  • Bishop, D. V. M. (2000). Pragmatic language impairment: a correlate of SLI, a distinct subgroup, or part of the autistic continuum? In D. V. M. Bishop & L. B. Leonard (Eds.), Speech and Language Impairments in Children: Causes, Characteristics, Intervention and Outcome (pp. 99–113). Hove, UK: Psychology Press.
  • Bishop, D., & Rutter, M. (2008). Neurodevelopmental disorders: conceptual approaches. In M. Rutter, D. Bishop, D. Pine, S. Scott, J. Stevenson, E. Taylor & A. Thapar (Eds.), Rutter’s Child and Adolescent Psychiatry (pp. 32–41). Oxford: Blackwell.
  • Bishop DV, Snowling MJ (November 2004). “Developmental dyslexia and specific language impairment: same or different?”. Psychol Bull 130 (6): 858–86.
  • Bishop, D. V. M. (2008). Specific language impairment, dyslexia, and autism: Using genetics to unravel their relationship. In C. F. Norbury, J. B. Tomblin & D. V. M. Bishop (Eds.), Understanding developmental language disorders: from theory to practice (pp. 67–78). Hove: Psychology Press.
  • Tomblin JB, Records NL, Zhang X (December 1996). “A system for the diagnosis of specific language impairment in kindergarten children”. J Speech Hear Res 39 (6): 1284–94.
  • Gardner H, Froud K, McClelland A, van der Lely HK (2006). “Development of the Grammar and Phonology Screening (GAPS) test to assess key markers of specific language and literacy difficulties in young children”. Int J Lang Commun Disord 41 (5): 513–40.
  • van der Lely HK, Payne E, McClelland A (2011). “An investigation to validate the grammar and phonology screening (GAPS) test to identify children with specific language impairment”. PLoS ONE 6 (7): e22432.
  • Tomblin JB, Records NL, Buckwalter P, Zhang X, Smith E, O’Brien M (December 1997). “Prevalence of specific language impairment in kindergarten children”. J. Speech Lang. Hear. Res. 40 (6): 1245–60.
  • Johnson CJ, Beitchman JH, Young A, et al. (June 1999). “Fourteen-year follow-up of children with and without speech/language impairments: speech/language stability and outcomes”. J. Speech Lang. Hear. Res. 42 (3): 744–60.
  • Bishop DV, Edmundson A (May 1987). “Language-impaired 4-year-olds: distinguishing transient from persistent impairment”. J Speech Hear Disord 52 (2): 156–73.
  • Catts HW, Fey ME, Tomblin JB, Zhang X (December 2002). “A longitudinal investigation of reading outcomes in children with language impairments”. J. Speech Lang. Hear. Res. 45 (6): 1142–57
  • Snowling MJ, Adams JW, Bishop DV, Stothard SE (2001). “Educational attainments of school leavers with a preschool history of speech-language impairments”. Int J Lang Commun Disord 36 (2): 173–83.
  • Simkin, Z.; Conti-Ramsden, G. (2006). “Evidence of reading difficulty in subgroups of children with specific language impairment”. Child Language Teaching and Therapy 22 (3): 315–331.
  • Cohen, Nancy (2001). Language impairment and psychopathology in infants, children, and adolescents. Thousand Oaks: Sage Publications.
  • ^ Conti-Ramsden G, Botting N (February 2004). “Social difficulties and victimization in children with SLI at 11 years of age”. J. Speech Lang. Hear. Res. 47 (1): 145–61.
  • Clegg J, Hollis C, Mawhood L, Rutter M (February 2005). “Developmental language disorders—a follow-up in later adult life. Cognitive, language and psychosocial outcomes”. J Child Psychol Psychiatry 46 (2): 128–49.
  • Snowling MJ, Bishop DV, Stothard SE, Chipchase B, Kaplan C (August 2006). “Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment”. J Child Psychol Psychiatry 47 (8): 759–65.
  • Bishop DV (October 2006). “What Causes Specific Language Impairment in Children?”. Curr Dir Psychol Sci 15 (5): 217–221.www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2582396/.
  • ^ishop, D. V. M. (2009). Genes, cognition and communication: insights from neurodevelopmental disorders. The Year in Cognitive Neuroscience: Annals of the New York Academy of Sciences, 1156, 1–18.
  • Garside, Roger F.; Fundudis, Trian; Kolvin, Israel (1979). Speech retarded and deaf children : their psychological development. Boston: Academic Press.
  • Ceponiene R, Cummings A, Wulfeck B, Ballantyne A, Townsend J (September 2009). “Spectral vs. temporal auditory processing in specific language impairment: a developmental ERP study”. Brain Lang 110 (3): 107–20. doi:10.1016/j.bandl.2009.04.003. PMC 2731814. PMID 19457549. //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2731814/.
  • Tallal P (September 2004). “Improving language and literacy is a matter of time”. Nat. Rev. Neurosci. 5 (9): 721–8
  • Rice ML, Wexler K, Cleave PL (August 1995). “Specific language impairment as a period of extended optional infinitive”. J Speech Hear Res 38 (4): 850–63
  • van der Lely HK (February 2005). “Domain-specific cognitive systems: insight from Grammatical-SLI”. Trends Cogn. Sci. (Regul. Ed.) 9 (2): 53–9.
  • Lum JA, Gelgic C, Conti-Ramsden G (2010). “Procedural and declarative memory in children with and without specific language impairment”. Int J Lang Commun Disord 45 (1): 96–107. //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2826154/.
  • Ullman MT, Pierpont EI (June 2005). “Specific language impairment is not specific to language: the procedural deficit hypothesis”. Cortex 41 (3): 399–433.
  • Montgomery JW (2003). “Working memory and comprehension in children with specific language impairment: what we know so far”. J Commun Disord 36 (3): 221–31.
  • Montgomery JW, Magimairaj BM, Finney MC (February 2010). “Working memory and specific language impairment: an update on the relation and perspectives on assessment and treatment”. Am J Speech Lang Pathol 19 (1): 78–94.
  • Gathercole, Susan E; Baddeley, Alan D (1990). “Phonological memory deficits in language disordered children: Is there a causal connection?”. Journal of Memory and Language 29 (3): 336–360.
  • Coady JA, Evans JL (2008). “Uses and interpretations of non-word repetition tasks in children with and without specific language impairments (SLI)”. Int J Lang Commun Disord 43 (1): 1–40.
  • Hsu HJ, Bishop DV (January 2011). “Grammatical Difficulties in Children with Specific Language Impairment: Is Learning Deficient?”. Hum Dev 53 (5): 264–277. 22003258. //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3191529/.
  • Bishop DV (July 2006). “Developmental cognitive genetics: how psychology can inform genetics and vice versa”. Q J Exp Psychol (Hove) 59 (7): 1153–68.  //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2409179/.
  • Robinson, R. J. (1991). Causes and associations of severe and persistent specific speech and language disorders in children. Developmental Medicine and Child Neurology, 33, 943–962.
  • Jernigan TL, Hesselink JR, Sowell E, Tallal PA (May 1991). “Cerebral structure on magnetic resonance imaging in language- and learning-impaired children”. Arch. Neurol. 48 (5): 539–45.
  • Jackson T, Plante E (June 1996). “Gyral morphology in the posterior Sylvian region in families affected by developmental language disorder”. Neuropsychol Rev 6 (2): 81–94.
  • Herbert MR, Kenet T (June 2007). “Brain abnormalities in language disorders and in autism”. Pediatr. Clin. North Am. 54 (3): 563–83, vii.
  •  Bishop DV (September 2010). “Overlaps between autism and language impairment: phenomimicry or shared etiology?”. Behav. Genet. 40 (5): 618–29.  //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2921070/.
  • Gallagher, T. (1996). Social-interactional approaches to child language intervention. In J. Beitchman, N. J. Cohen, M. M. Konstantareas & R. Tannock (Eds.), Language, Learning and Behavior Disorders: Developmental, Biological and Clinical Perspectives (pp. 493–514). New York: Cambridge University Press.
  • Tannock, R., & Girolametto, L. (1992). Reassessing parent-focused intervention programs. In S. F. Warren & J. Reichle (Eds.), Causes and effects in communication and language intervention (pp. 49–81). Baltimore MD: Paul Brooks.
  • Tallal, P. (2000). Experimental studies of language learning impairments: From research to remediation. In D. V. M. Bishop & L. B. Leonard (Eds.), Speech and Language Impairments in Children: Causes, Characteristics, Intervention and Outcome (pp. 131–155). Hove, UK: Psychology Press.
  • Law J, Garrett Z, Nye C (August 2004). “The efficacy of treatment for children with developmental speech and language delay/disorder: a meta-analysis”. J. Speech Lang. Hear. Res. 47 (4): 924–43. doi:10.1044/1092-4388(2004/069). PMID 15324296.
  • Glogowska M, Roulstone S, Enderby P, Peters TJ (October 2000). “Randomised controlled trial of community based speech and language therapy in preschool children”. BMJ 321 (7266): 923–6. PMC 27499. 11030677. //www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC27499/.
  • Bryne-Saricks, M. C. (1987). Treatment of language disorders in children: a review of experimental studies. In H. Winitz (Ed.), Human Communication and its Disorders (pp. 167–201). Norwood, N. J: Ablex Publishing.
  • Strong, G. K., Torgerson, C. J., Torgerson, D., & Hulme, C. (2010). A systematic meta-analytic review of evidence for the effectiveness of the ‘Fast ForWord’ language intervention program. Journal of Child Psychology and Psychiatry, in press
  • Reid, D. Kim and Jan Weatherly Valle. 2004. “The Discursive Practice of Learning Disability: Implications for Instruction and Parent-School Relations.” Journal of Learning Disabilities 37(6):466-481.
  • Carrier, James. 1986. Learning Disability: Social Class and the Construction of Inequality in American Education. New York, NY: Greenwood Press.
  • Dudley-Marling, Curt. 2004. “The Social Construction of Learning Disabilities.” Journal of Learning Disabilities 37(6):482-489.
  • Ho, Anita. 2004. “To be Labeled, or Not to be Labeled: That is the Question.” British Journal of Learning Disabilities 32(2):86-92.
  • Williams, Val and Pauline Heslop. 2005. “Mental Health Support Needs of People with a Learning Difficulty: A Medical or a Social Model?” Disability & Society 20(3):231-245.
  • Baron, Stephen, Sheila Riddell, and Alastair Wilson. 1999. “The Secret of Eternal Youth: Identity, Risk and Learning Difficulties.” British Journal of Sociology of Education 20(4):483-499.
  • Carrier, James G. 1983. “Explaining Educability: An Investigation of Political Support for the Children with Learning Disabilities Act of 1969.” British Journal of Sociology of Education 4(2):125-140.

Artikel Terkait lainnya

supported by

CHILDREN BEHAVOUR CLINIC 

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com   http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Clinical – Editor in Chief :
Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

 

Copyright © 2013, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Asam Folat Saat Hamil Cegah Autisme

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition mengungkapkanm bahwa konsumsi asam folat dalam jumlah tertentu di bulan pertama kehamilan dapat mengurangi risiko anak terkena autistik.

Sebuah studi yang mengindikasikan keterkaitan antara konsumsi asam folat selama periode awal kehamilan dengan autisme yang diderita oleh anak di dalam janin.

Wanita hamil yang mengonsumsi sedikitnya 0,6 miligram asam folat per hari di dalam bulan pertama kehamilan, anak yang dikandungnya memiliki risiko terkena autistik 38 persen lebih rendah. Risiko rendah ini lebih signifikan terutama ketika ibu dan bayi membawa varian genetik spesifik MTHFR 677 C>T. Varian gen tersebut berasosiasi dengan metabolisme folat yang kurang efisien.

Studi ini kongruen dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan peningkatan pada perkembangan saraf berhubungan dengan asam folat yang dikonsumsi tubuh.Peneliti merekomendasikan para wanita yang tengah mengandung perlu memperhatikan konsumsi suplemen asam folat sejak usia kandungan dini.

Tim peneliti mengamati data dari 835 orang wanita di California bagian utara. Peserta uji mempunyai anak usia 2-5 tahun dengan gangguan autisme atau perkembangan terhambat, untuk sampai pada kesimpulan hasil temuan ini. Asam folat bisa membantu memberikan semacam proteksi terhadap gangguan pertumbuhan embrionik otak. Melalui fasilitasi reaksi metil DNA, yang berperan dalam mengubah pembacaan kode genetik.

Asam folat merupakan bentuk sintesis vitamin B9, salah satu vitamin B yang larut dalam air. Pembuatan asam folat terjadi secara alami dalam makanan. Asam folat dalam bentuk sintetis juga banyak digunakan untuk fortifikasi makanan dan suplemen gizi.

Sumber: Science Daily

GROWTH DEVELOPMENT BEHAVIOR CLINIC Klinik Khusus Gangguan Tumbuh Kembang Dan Perilaku Anak GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252 email : judarwanto@gmail.com www.growupclinic.com

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Tumbuh Kembang Anak Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Copyright © 2014, GROWTH DEVELOPMENT & BEHAVIOUR ONLINE CLINIC. Information Education Network. All rights reserved

Ibu Demam Beresiko Autism Pada Bayi

Penelitian terkini melaporkan bahwa wanita hamil yang mengalami demam selama hamil, berisiko dua kali lebih besar memiliki anak dengan gangguan autistik atau keterlambatan perkembangan. Penelitian penting itu telah dipublikasikan dalam Journal of Autism and Developmental Disorder.

Peneliti juga mengungkapkan, penggunaan obat untuk mengatasi demam saat kehamilan mungkin dapat secara efektif mengurangi risiko melahirkan anak dengan autisme atau gangguan perkembangan saraf yang abnormal. Hasil penelitian menunjukkan bukti kuat bahwa mengendalikan demam saat hamil mungkin efektif dalam memodifikasi risiko memiliki anak dengan autisme atau keterlambatan perkembangan..

Sehingga menurut hasil penelitian tersebut merekomendasikan bahwa wanita hamil yang mengalami demam sebaiknya mengonsuvCBmsi obat penurun suhu badan dan mencari pertolongan medis jika demam berlangsung terus menerus.

Peneliti mengklaim temuan mereka sebagai yang pertama, yang melihat kaitan antara demam sebagai faktor penyebab autis dan pentingnya perawatan selama kehamilan untuk mencegah keterlambatan perkembangan pada anak. Beberapa studi sebelumnya telah mengaitkan risiko infeksi pada ibu hamil terhadap beberapa perkembangan penyakit lain seperti rubella, campak, gondongan dan influenza.

Metodologi penelitian yang digunakan adalah data Childhood Autism Risk from Genetics and the Environment (CHARGE), yang melibatkan 538 anak penyandang autisme, 163 anak dengan keterlambatan perkembangan tetapi tidak autisme, dan 421 anak-anak normal. Kemudian, setiap ibu dari anak-anak tersebut diminta untuk menyelesaikan survei mengenai apakah mereka mengalami flu atau demam selama kehamilan dan apakah mereka mengambil obat untuk mengobati penyakit mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa flu selama kehamilan tidak terkait dengan risiko perkembangan anak dengan autisme atau keterlambatan perkembangan lainnya. Tetapi hasil lain yang meengejutkan menyimpulkan bahwa demam saat hamil meningkatkan risiko autisme 2,12 kali dan 2,5 kali keterlambatan perkembangan, dibandingkan dengan ibu yang saat hamil tidak mengalami demam.

Sedanhkan hasil lain menunjukkan bahwa risiko ibu yang mengonsumsi obat demam resiko terjadi autism tidak lebih tinggi dibandingkan anak yang ibunya tidak mengalami demam. Penelitian sebelumnya juga mengungkapkan bahwa ibu yang mengalami obesitas atau diabetes memiliki risiko yang relatif lebih tinggi memiliki anak penyandang autise.

Demam disebabkan oleh peradangan akut yang pada jangka pendek diduga dapat mendorong sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap infeksi atau cedera. Peradangan kronis dapat merusak jaringan sehat. Kondisi ini umumnya terjadi pada pada ibu dengan kelainan metabolik seperti diabetes dan obesitas. Beberapa ahli menduga proses inflamasi (peradangan) dalam tubuh yang disertai obesitas, diabetes serta demam, sering berperan dalam autisme..

Ketika seseorang tertular infeksi bakteri atau virus, tubuh mereka umumnya bereaksi dengan merespon penyembuhan yang melibatkan pelepasan pro-inflamasi molekul sinyal yang disebut sitokin (dari sel darah putih ke dalam aliran darah). Beberapa molekul sinyal yang dilepas dapat menembus plasenta dan mencapai sistem pusat janin. Hal ini berpotensi mengubah tingkat neurotransmitter dan perkembangan otak jika mereka mencapai sistem saraf pusat janin.

supported by

AUTISM CLINIC ONLINE

CHILDREN GRoW UP CLINIC

Yudhasmara Foundation http://childrengrowup.wordpress.com

  • CHILDREN GRoW UP CLINIC I, Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hlir Jakarta Pusat phone (021) 5703646 – (021) 44466102
  • CHILDREN GRoW UP CLINIC II, Menteng Square Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 977730777
  • email : judarwanto@gmail.com narulita_md@yahoo.com

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

LAYANAN KLINIK KHUSUS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

PROFESIONAL MEDIS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation
  • Dr Widodo Judarwanto SpA, Pediatrician
  • Fisioterapis

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

5 Manifestasi Perilaku pada Anak Yang Harus Dicurigai Sebagai Autism

Autism adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. Karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik atau motorik dan perkembangan terlambat atau tidak normal. Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun

5 Manifestasi Perilaku pada Anak Yang harus Diwaspadai

Pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :

  1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
  2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
  3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
  4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
  5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu

Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.

Diagnosis Berdasarkan DSM IV

A. Interaksi Sosial (minimal 2):

  1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
  2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
  3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
  4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah

B. Komunikasi Sosial (minimal 1):

  1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
  2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
  3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
  4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social

C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):

  1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
  2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
  3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda

Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan pengamatan yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.

GROWTH DEVELOPMENT BEHAVIOR CLINIC Klinik Khusus Gangguan Tumbuh Kembang Dan Perilaku Anak GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252 email : judarwanto@gmail.com www.growupclinic.com

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Tumbuh Kembang Anak Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Copyright © 2014, GROWTH DEVELOPMENT & BEHAVIOUR ONLINE CLINIC. Information Education Network. All rights reserved

Pencegahan Autism Pada Anak Sejak Kehamilan dan Usia Anak

PENCEGAHAN AUTIS PADA ANAK

Dr Widodo Judarwanto SpA

ABSTRAK

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autis akan semakin meningkat pesat. Jumlah penderita autis semakin mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autis masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Autis adalah penyakit yang dipengaruhi oleh multifaktorial. Tetapi sejauh ini masih belum terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan faktor resikonya. Dalam keadaan seperti ini, strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Sehingga saat ini tujuan pencegahan mungkin hanya sebatas untuk mencegah agar gangguan yang terjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autis.

PENDAHULUAN

Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukanpada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penderita autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penderita yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik. Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak austima dapat mencapai 150 -–200 ribu orang. .

PENYEBAB AUTIS

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : Genetik (heriditer), teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin

Beberapa teori penyebab Autis

  • Genetik dan heriditer
  • Teori Kelebihan Opioid · Unsur Opioid-like · Kekurangan enzyme Dipeptidyl peptidase · Dermorphin Dan Sauvagine · Opioids dan secretin · Opioids dan glutathione · Opioids dan immunosuppression
  • Gluten/Casein Teori Dan Hubungan Penyakit Celiac · IgA urine · Teori Gamma Interferon · Teori Metabolisme Sulfat
  • Kolokistokinin
  • Oksitosin Dan Vasopressin
  • Metilation
  • Imunitas Teori Autoimun dan Alergi makanan
  • Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar
  • Teori Infeksi Karena virus Vaksinasi 10. Teori Sekretin
  • Teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut)
  • Paparan Aspartame 13. Kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu
  • Orphanin Protein: Orphanin FQ/NOCICEPTIN ( OFQ/N)

Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin. Metalotionon adalah merupakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya seperti tenbaga, perak atau zinc.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah : defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autis disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.

Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara khusus pada penderita autis, memang menunjukkan hubungan tersebut meskipun bukan merupakan sebab akibat.. Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.

Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autis terjadi sebelum kelahiran bayi. Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autis pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autis hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autis. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.

MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal meliputi kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa planet”). Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. nEkolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan imik datar

Gangguan dalam bidang interaksi sosial meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh. Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya. Gangguan dalam bermain diantaranya adalah bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.

Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.

Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain Gangguan dalam persepsi sensoris meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.

Menegakkan diagnosis autis memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosis langsung autis. Diagnosis Autis hanyalah melalui diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

FAKTOR RESIKO

Karena penyebab Autis adalah multifaktorial sehingga banyak faktor yang mempengaruhi.Sehingga banyak teori penyebab yang telah diajukan oleh banyak ahli. Hal ini yang menyulitkan untuk memastikan secara tajam faktor resiko penyakit autis. Faktor resiko disusun oleh para ahli berdasarkan banyak teori penyebab autris yang telah berkembang. Terdapat beberapa hal dan keadaan yang membuat resiko anak menjadi autis lebih besar. Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak yang beresiko. Adapun beberapa resiko tersebut dapat diikelompokkan dalam beberapa periode, seperti periode kehamilan, persalinan dan periode usia bayi.

PERIODE KEHAMILAN

Perkembangan janin dalam kehamilan sangat banyak yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem susunan saraf otak sangat pesat terjadi pada periode ini, sehingga segala sesuatu gangguan atau penyakit pada ibu tentunya sangat berpengaruh. Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme. Beberapa keadaan ibu dan bayi dalam kandungan yang harus lebih diwaspadai dapat berkembang jadi autism adalah infeksi selama persalinan terutama infeksi virus. Peradarahan selama kehamilan harus diperhatikan sebagai keadaan yang berpotensi mengganggu fungsi otak janin. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena placental complications, diantaranya placenta previa, abruptio placentae, vasa previa, circumvallate placenta, and rupture of the marginal sinus. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin. Perdarahan awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir rendah tampaknya juga merupakan resiko tinggi terjadinya autis perilaku lain yang berpotensi membahayakan adalah pemakaian obat-obatan yang diminum, merokok dan stres selama kehamilan terutama trimester pertama. Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Menurut pengamatan penulis, hal ini dapat dilihat adanya Gerakan bayi gerakan refluks oesefagial (hiccupps/cegukan) yang berlebihan sejak dalam kandungan terutama terjadi malam hari. Diduga dalam kedaaan tersebut bayi terpengaruh pencernaan dan aktifitasnya oleh penyebab tertentu termasuk alergi ataupun bahan-bahan toksik lainnya selama kehamilan. Infeksi saluran kencing, panas tinggi dan Depresi. Wilkerson dkk telah melakukan penelitian terhadap riwayat ibu hamil pada 183 anak autism dibandingkan 209 tanpa autism. Ditemukan kejadian infeksi saluran kencing, panas tinggi dan depresi pada ibu tampak jumlahnya bermakna pada kelompok ibu dengan anak autism.

PERIODE PERSALINAN Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya. Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak. Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya. Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram).

PERIODE USIA BAYI Dalam kehidupan awal di usia bayi, beberapa kondisi awal atau gangguan yang terjadi dapat mengakibatkan gangguan pada optak yang akhirnya dapat beresiko untuk terjadinya gangguan autism. Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autism adalah prematuritas, alergi makanan, kegagalan kenaikan berat badan, kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar dan gangguan neurologI/saraf : trauma kepala, kejang, otot atipikal, kelemahan otot.

PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan adalah yang paling utama dalam menghindari resiko terjadinya penyakit atau gangguan pada organ tubuh kita. Banyak penyakit dapat dilakukan strategi pencegahan dengan baik, karena faktor etiologi dan faktor resiko dapat diketahui dengan jelas. Berbeda dengan kelainan autis, karena teori penyebab dan faktor resiko belum masih belum jelas maka strategi pencegahan mungkin tidak bisa dilakukan secara optimal. Dalam kondisi seperti ini upaya pencegahan tampaknya hanya bertujuan agar gangguan perilaku yang terjadi tidak semakin parah bukan untuk mencegah terjadinya autis. Upaya pencegahan tersebut berdasarkan teori penyebab ataupun penelitian faktor resiko autis. Pencegahan ini dapat dilakukan sedini mungkin sejak merencanakan kehamilan, saat kehamilan, persalinan dan periode usia anak.

PENCEGAHAN SEJAK KEHAMILAN Untuk mencegah gangguan perkembangan sejak kehamilan , kita harus melihat dan mengamati penyebab dan faktor resiko terjadinya gangguan perkembangan sejak dalam kehamilan. Untuk mengurangi atau menghindari resiko yang bisa timbul dalam kehamilan tersebut dapat melalui beberapa cara. Adapun cara untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang sejak dalam kehamilan tersebut diantaranya adalah periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal, kalu perlu berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan. Melakukan pemeriksaan skrening secara lengkap terutama infeksi virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, herpes atau hepatitis). Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasehat dan petunjuk dokter dengan baik. Bila terdapat peradarahan selama kehamilan segera periksa ke dokter kandungan. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena kelainan plasenta. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin. Perdarahan pada awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir rendah juga merupakan resiko tinggi terjadinya autism dan gangguan bahasa lainnya.

Berhati-hatilah minum obat selama kehamilan, bila perlu harus konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan saraf pusat yang mengakibatkan autism dan gangguan perkembangan lainnya termasuk gangguan berbicara. Bila bayi beresiko alergi sebaiknya ibu mulai menghindari paparan alergi berupa asap rokok, debu atau makanan penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan. Hindari paparan makanan atau bahan kimiawi atau toksik lainnya selama kehamilan. Jaga higiene, sanitasi dan kebersihan diri dan lingkungan. Konsumsilah makanan yang bergizi baik dan dalam jumlah yang cukup. Sekaligus konsumsi vitamin dan mineral tertentu sesuai anjuran dokter secara teratur.

Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Menurut pengamatan penulis, bila dilihat adanya gerakan bayi gerakan refluks oesefagial (hiccupps/cegukan) yang berlebihan sejak dalam kandungan terutama terjadi malam hari. Diduga dalam kedaaan tersebut bayi terpengaruh pencernaan dan aktifitasnya oleh penyebab tertentu termasuk alergi ataupun bahan-bahan toksik lainnya selama kehamilan. Bila gerakan bayi dan gerakan hiccups/cegukan pada janin yang berlebihan terutama pada malam hari serta terdapat gejala alergi atau sensitif pencernaan salah satu atau kedua orang tua. Sebaiknya ibu menghindari atau mengurangi makanan penyebab alergi sejak usia kehamilan di atas 3 bulan. Hindari asap rokok, baik secara langsung atau jauhi ruangan yang dipenuhi asap rokok. Beristirahatlah yang cukup, hindari keadaan stres dan depresi serta selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.

PENCEGAHAN SAAT PERSALINAN Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya. Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak. Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya Beberapa hal yang terjadi saat persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya perkembangan dan perilaku pada anak, sehingga harus diperhatikan beberapa hal penting. Melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan tentang rencana persalinan. Dapatkan informasi secara jelas dan lengkap tentang resiko yang bisa terjadi selama persalinan. Bila terdapat resiko dalam persalinan harus diantisipasi kalau terjadi sesuatu. Baik dalam hal bantuan dokter spesialis anak saat persalinan atau sarana perawatan NICU (Neonatologi Intensive Care Unit) bila dibutuhkan.

Bila terdapat faktor resiko persalinan seperti : pemotongan tali pusat terlalu cepat, asfiksia pada bayi baru lahir (bayi tidak menangis atau nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, persalinan lama, letak presentasi bayi saat lahir tidak normal, berat lahir rendah ( < 2500 gram) maka sebaiknya dilakukan pemantauan perkembangan secara cermat sejak usia dini.

PENCEGAHAN SEJAK USIA BAYI

Setelah memasuki usia bayi terdapat beberapa faktor resiko yang harus diwaspadai dan dilakukan upaya pencegahannya. Bila perlu dilakukan terapi dan intervensi secara dini bila sudah mulai dicurigai terdapat gejala atau tanda gangguan perkembangan. Adapun beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukanl Amati gangguan saluran cerna pada bayi sejak lahir. Gangguan teresebut meliputi : sering muntah, tidak buang besar setiap hari, buang air besar sering (di atas usia 2 minggu lebih 3 kali perhari), buang air besar sulit (mengejan), sering kembung, rewel malam hari (kolik), hiccup (cegukan) berlebihan, sering buang angin. Bila terdapat keluhan tersebut maka penyebabnya yang paling sering adalah alergi makanan dan intoleransi makanan. Jalan terbaik mengatasi ganggguan tersebut bukan dengan obat tetapi dengan mencari dan menghindari makanan penyebab keluhan tersebut. Gangguan saluran cerna yang berkepanjangan akan dapat mengganggu fungsi otak yang akhirnya mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak. Bila terdapat kesulitan kenaikkan berat badan, harus diwaspadai. Pemberian vitamin nafsu makan bukan jalan terbaik dalam mengobati penderita, tetapi harus dicari penyebabnya. Bila terdapat kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, maka harus dilakukan perawatan oleh dokter ahli. Harus diamati tanda dan gejala autism secara cermat sejak dini.

Demikian pula bila terjadi gangguan neurologi atau saraf seperti trauma kepala, kejang (bukan kejang demam sederhana) atau gangguan kelemahan otot maka kita harus lebih cermat mendeteksi secara dini gangguan perkembangan. Pada bayi prematur, bayi dengan riwayat kuning tinggi (hiperbilirubinemi), infeksi berat saat usia bayi (sepsis dll) atau pemberian antibiotika tertentu saat bayi harus dilakukan monitoring tumbuh kembangnya secara rutin dan cermat terutama gangguan perkembangan dan perilaku pada anak.

Bila didapatkan penyimpangan gangguan perkembangan khususnya yang mengarah pada gangguan perkembangan dan perilaku maka sebaiknya dilakukan konsultasi sejak dini kepada ahlinya untuk menegakkan diagnosis dan intervensi sejak dini. Pada bayi dengan gangguan pencernaan yang disertai gejala alergi atau terdapat riwayat alergi pada orang tua, sebaiknya menunda pemberian makanan yang beresiko alergi hingga usia diatas 2 atau 3 tahun. Makanan yang harus ditunda adalah telor, ikan laut, kacang tanah, buah-buahan tertentu, keju dan sebagainya. Bayi yang mengalami gangguan pencernaan sebaiknya juga harus menghindari monosodium glutamat (MSG), amines, tartarzine (zat warna makanan), Bila gangguan pencernaan dicurigai sebagai Celiac Disease atau Intoleransi Casein dan Gluten maka diet harus bebas casein dan Gluten, Ciptakan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, hindari rasa permusuhan, pertentangan, emosi dan kekerasan.

Bila terdapat faktor resiko tersebut pada periode kehamilan atau persalinan maka kita harus lebih waspada. Menurut beberapa penelitian resiko tersebut akan semakin besar kemungkinan terjadi autism. Selanjutnya kita harus mengamati secara cermat tanda dan gejala autism sejak usia 0 bulan. Bila didapatkan gejala autism pada usia dini, kalau perlu dilakukan intervensi sejak dini dalam hal pencegahan dan pengobatan. Lebih dini kita melakukan intervensi kejadian autism dapat kita cegah atau paling tidak kita minimalkan keluhan yang akan timbul. Bila resiko itu sudah tampak pada usia bayi maka kondisi tersebut harus kita minimalkan bahkan kalau perlu kita hilangkan. Misal kegagalan kenaikkan berat badan harus betul-betul dicari penyebabnya, pemberian vitamin bukan jalan terbaik untuk mencari penyebab kelainan tersebut.

Demikan pula gangguan alergi makanan dan gangguan pencernaan pada bayi, harus segera dicari penyebabnya. Yang paling sering adalah karena alergi makanan atau intoleransi makan, penyebabnya jenis makanan tertentu termasuk susu bayi. Pemberian obat-obat bukanlah cara terbaik untuk mencari penyebab gangguan alergi atau gangguan pencernaan tersebut. Yang paling ideal adalah kita harus menghindari makanan penyebab gangguan tersebut tanpa bantuan obat-obatan. Obat-obatan dapat diberikan sementara bila keluhan yang terjadi cukup berat, bukan untuk selamanya.

PENUTUP

Autis adalah penyakit yang dipengaruhi oleh multifaktorial. Tetapi sejauh ini masih belum terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan faktor resikonya. Sehingga strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat ini tujuan pencegahan mungkin hanya sebatas untuk mencegah agar gangguan yang terjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autis. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap secara jelas misteri penyebab penyakit autis sehingga nantinya dapat dilakukan strategi pencegahan agar seorang anak dapat tercegah penyakit autis.

DAFTAR PUSTAKA

1. American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities. Technical Report : The Pediatrician’s Role in Diagnosis and Management of Autistic Spectrum Disorder in Children. Pediatrics !107 : 5, May 2001) 2. Anderson S, Romanczyk R: Early intervention for young children with autism: A continuum-based behavioral models. JASH 1999; 24: 162-173. 3. APA: Diagnostic and statistic manual of mental disorders. 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 1994. 4. Bettelheim B: The Empty Fortress: Infantile Autism and the Birth of the Self. New York, NY: Free Press; 1977. 5. Brett EM: Paediatric Neurology. 2nd ed. London: Churchill Livingstone; 1991. 6. British Medical Journal: Childhood autism and related conditions. Br Med J 1980 Sep 20; 281(6243): 761-2. 7. Buka SL, Tsuang MT, Lipsitt LP: Pregnancy/delivery complications and psychiatric diagnosis. A prospective study. Arch Gen Psychiatry 1993 Feb; 50(2): 151-6. 8. Burd L, Kerbeshian J: Psychogenic and neurodevelopmental factors in autism. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1988 Mar; 27(2): 252-3. 9. Burd L, Severud R, Kerbeshian J, Klug MG: Prenatal and perinatal risk factors for autism. J Perinat Med 1999; 27(6): 441-50. 10. Cohen DJ, Volkmar FR: Handbood of Autism and Pervasive Developmental Disorders. NY: Wiley; 1996. 11. Horvath K, Papadimitriou JC, Rabsztyn A, et al: Gastrointestinal abnormalities in children with autistic disorder. J Pediatr 1999 Nov; 135(5): 559-63. 12. Hoshino Y, Yashima Y, Tachibana R, et al: Sex chromosome abnormalities in autistic children–long Y chromosome. Fukushima J Med Sci 1979; 26(1-2): 31-42. 13. Hutt SJ, Hutt C, Lee D, Dunstead C: A behavioural and electroencephalographic study of autistic children. J Psychiatr Res 1965 Oct; 3(3): 181-97. 14. Johnson MH, Siddons F, Frith U, Morton J: Can autism be predicted on the basis of infant screening tests? Dev Med Child Neurol 1992 Apr; 34(4): 316-20. 15. Lainhart JE, Piven J: Diagnosis, treatment, and neurobiology of autism in children. Curr Opin Pediatr 1995 Aug; 7(4): 392-400. 16. Lamb JA, Moore J, Bailey A: Autism: recent molecular genetic advances. Hum Mol Genet 2000 Apr 12; 9(6): 861-8. 17. Lovaas I: The Autistic Child: Language Development through Behavior Modification. NY: Irvington Press; 1977. 18. Lovaas OI, Koegel RL, Schreibman L: Stimulus overselectivity in autism: a review of research. Psychol Bull 1979 Nov; 86(6): 1236-54. 19. Martineau J, Barthelemy C, Garreau B, Lelord G: Vitamin B6, magnesium, and combined B6-Mg: therapeutic effects in childhood autism. Biol Psychiatry 1985 May; 20(5): 467-78. 20. Poustka F, Lisch S, Ruhl D, et al: The standardized diagnosis of autism, Autism Diagnostic Interview- Revised: interrater reliability of the German form of the interview. Psychopathology 1996; 29(3): 145-53. 21. Prior MR, Tress B, Hoffman WL, Boldt D: Computed tomographic study of children with classic autism. Arch Neurol 1984 May; 41(5): 482-4. 22. Singer HS: Pediatric movement disorders: new developments. Mov Disord 1998; 13 (Suppl 2): 17. 23. Skjeldal OH, Sponheim E, Ganes T, et al: Childhood autism: the need for physical investigations. Brain Dev 1998 Jun; 20(4): 227-33. 24. Stern JS, Robertson MM: Tics associated with autistic and pervasive developmental disorders. Neurol Clin 1997 May; 15(2): 345-55. 25. Taylor B, Miller E, Farrington CP, et al: Autism and measles, mumps, and rubella vaccine: no epidemiological evidence for a causal association. Lancet 1999 Jun 12; 353(9169): 2026-9. 26. Teitelbaum P, Teitelbaum O, Nye J, et al: Movement analysis in infancy may be useful for early diagnosis of autism. Proc Natl Acad Sci U S A 1998 Nov 10; 95(23): 13982-7. 27. Volkmar FR: DSM-IV in progress. Autism and the pervasive developmental disorders. Hosp Community Psychiatry 1991 Jan; 42(1): 33-5. 28. Volkmar FR, Cicchetti DV, Dykens E, et al: An evaluation of the Autism Behavior Checklist. J Autism Dev Disord 1988 Mar; 18(1): 81-97. 29. Volkmar FR, Cohen DJ: Neurobiologic aspects of autism. N Engl J Med 1988 May 26; 318(21): 1390-2. 30. Vostanis P, Smith B, Chung MC, Corbett J: Early detection of childhood autism: a review of screening instruments and rating scales. Child Care Health Dev 1994 May-Jun; 20(3): 165-77. 31. Vostanis P, Nicholls J, Harrington R: Maternal expressed emotion in conduct and emotional disorders of childhood. J Child Psychol Psychiatry 1994 Feb; 35(2): 365-76. 32. Vrono MS, Bashina VM: [Problem of adaptation of patients with the syndrome of early childhood autism]. Zh Nevropatol Psikhiatr Im S S Korsakova 1987; 87(10): 1511-6. 33. Werner E, Dawson G, Osterling J, Dinno N: Brief report: Recognition of autism spectrum disorder before one year of age: a retrospective study based on home videotapes. J Autism Dev Disord 2000 Apr; 30(2): 157-62. 34. Wilkerson DS, Volpe AG, Dean RS, Titus JB. Perinatal complications as predictors of infantile autism. Int J Neurosci 2002 Sep;112(9):1085-98 35. Wolraich M, Bzostek B, Neu RL, Gardner LI: Lack of chromosome aberrations in autism. N Engl J Med 1970 Nov 26; 283(22): 1231. 36. Yirmiya N, Sigman M, Freeman BJ: Comparison between diagnostic instruments for identifying high- functioning children with autism. J Autism Dev Disord 1994 Jun; 24(3): 281-91. 37. Zeanah CH, Davis S, Silverman M: The question of autism in an atypical infant. Am J Psychother 1988 Jan; 42(1): 135-50. 38. Zwaigenbaum L, Szatmari P, Jones MB: Decreased obstetric optimality in autism is a function of genetic liability to the broader autism phenotype. J Dev Behav Pediatr 1999; 20 (5): 398-399

supported by

AUTISM CLINIC ONLINE

CHILDREN GRoW UP CLINIC

Yudhasmara Foundation http://childrengrowup.wordpress.com

  • CHILDREN GRoW UP CLINIC I, Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hlir Jakarta Pusat phone (021) 5703646 – (021) 44466102
  • CHILDREN GRoW UP CLINIC II, Menteng Square Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 97730777
  • email : judarwanto@gmail.com narulita_md@yahoo.com

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

LAYANAN KLINIK KHUSUS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

PROFESIONAL MEDIS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation
  • Dr Widodo Judarwanto SpA, Pediatrician
  • Fisioterapis

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, CHILDREN GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Pencegahan, Faktor Resiko dan Penyebab Autism

Pencegahan, Faktor Resiko dan Penyebab Autism

RESIKO TINGGI TERJADI AUTISM :

  • Terdapat beberapa hal dan keadaan yang membuat resiko anak menjadi autism lebih besar.
  • Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak yang beresiko.

Adapun beberapa resiko tersebut dapat diikelompokkan dalam beberapa periode, diantaranya adalah :

PERIODE KEHAMILAN

  • Perkembangan janin dalam kehamilan sangat banyak yang mempengaruhinya.
  • Pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem susunan saraf otak sangat pesat terjadi pada periode ini, sehingga segala sesuatu gangguan atau penyakit pada ibu tentunya sangat berpengaruh.
  • Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme.
  • Beberapa keadaan ibu dan bayi dalam kandungan yang harus lebih diwaspadai dapat berkembang jadi autism adalah : Infeksi selama persalinan terutama infeksi virus Peradarahan selama kehamilan Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena placental complications, diantaranya placenta previa, abruptio placentae, vasa previa, circumvallate placenta, and rupture of the marginal sinus. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin.
  • Perdarahan awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah.
  • Prematur dan berat bayi lahir rendah juga merupakan resiko tinggi terjadinya autism
  • Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama Merokok saat kehamilan Stres saat kehamilan
  • Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Menurut pengamatan penulis, hal ini dapat dilihat adanya Gerakan bayi gerakan refluks oesefagial (hiccupps/cegukan) yang berlebihan sejak dalam kandungan terutama terjadi malam hari. Diduga dalam kedaaan tersebut bayi terpengaruh pencernaan dan aktifitasnya oleh penyebab tertentu termasuk alergi ataupun bahan-bahan toksik lainnya selama kehamilan.
  • Infeksi saluran kencing, Panas tinggi dan Depresi Wilkerson dkk telah melakukan penelitian terhadap riwayat ibu hamil pada 183 anak autism dibandingkan 209 tanpa autism. Ditemukan kejadian infeksi saluran kencing, panas tinggi dan depresi pada ibu tampak jumlahnya bermakna pada kelompok ibu dengan anak autism.

PERIODE KEHAMILAN

  • Beberapa keadaan ibu dan bayi dalam kandungan yang harus lebih diwaspadai dapat berkembang jadi autism adalah : Infeksi selama persalinan terutama infeksi virus
  • Perdarahan selama kehamilan Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena placental complications, diantaranya placenta previa, abruptio placentae, vasa previa, circumvallate placenta, and rupture of the marginal sinus. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin.
  • Perdarahan awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir rendah juga merupakan resiko tinggi terjadinya autism Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan saraf pusat yang mengakibatkan autism
  • Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Menurut pengamatan penulis, hal ini dapat dilihat adanya Gerakan bayi gerakan refluks oesefagial (hiccupps/cegukan) yang berlebihan sejak dalam kandungan terutama terjadi malam hari. Infeksi saluran kencing,
  • Panas tinggi dan Depresi Wilkerson dkk telah melakukan penelitian terhadap riwayat ibu hamil pada 183 anak autism dibandingkan 209 tanpa autism. Ditemukan kejadian infeksi saluran kencing, panas tinggi dan depresi pada ibu tampak jumlahnya bermakna pada kelompok ibu dengan anak autism.

PERIODE PERSALINAN

  • Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya.
  • Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak.
  • Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya
  • Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : Pemotongan tali pusat terlalu cepat Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah <3)

PERIODE USIA BAYI

  • Dalam kehidupan awal di usia bayi, beberapa kondisi awal atau gangguan yang terjadi dapat mengakibatkan gangguan pada optak yang akhirnya dapat beresiko untuk terjadinya gangguan autism.
  • Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autism adalah sebagai berikut : Prematuritas Alergi makanan Kegagalan kenaikan berat badan Kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik,
  • Gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar Gangguan neurologI/saraf : trauma kepala, kejang, otot atipikal, kelemahan otot. B.

PENCEGAHAN AUTISM

  • Tindakan pencegahan adalah yang paling utama dalam resiko terjadinya penyakit atau gangguan.
  • Demikian pula kelainan autism, meskipun teori penyebabnya masih belum jelas terungkap namun beberapa upaya pencegahan dapat dilakukan.
  • Upaya pencegahan tersebut berdasarkan teori penyebab ataupun penelitian faktor resiko autisme. Pencegahan ini dapat dilakukan sedini mungkin sejak merencanakan kehamilan, saat kehamilan, persalinan dan periode usia anak.

PENCEGAHAN SEJAK KEHAMILAN

  • Untuk mencegah gangguan perkembangan sejak kehamilan , harus dilihat dan diamati penyebab dan faktor resiko terjadinya gangguan perkembangan sejak dalam kehamilan. Untuk mengurangi atau menghindari resiko yang bisa timbul dalam kehamilan tersebut dapat melalui beberapa cara.
  • Adapun cara untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang sejak dalam kehamilan tersebut diantaranya adalah : Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal, kalu perlu berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan. Melakukan pemeriksaan skrening secara lengkap terutama infeksi virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, herpes atau hepatitis).
  • Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasehat dan petunjuk dokter dengan baik. Peradarahan selama kehamilan segera periksa ke dokter kandungan anda. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena kelainan plasenta. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin.
  • Perdarahan pada awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir rendah juga merupakan resiko tinggi terjadinya autism dan gangguan bahasa lainnya. Berhati-hatilah minum obat selama kehamilan, bila perlu harus konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan saraf pusat yang mengakibatkan autism dan gangguan perkembangan lainnya termasuk gangguan berbiocara.
  • Bila bayi beresiko alergi sebaiknya ibu mulai menghindari paparan alergi berupa asap rokok, debu atau makanan penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan.
  • Hindari paparan makanan atau bahan kimiawi atau toksik lainnya selama kehamilan. Jaga higiene, sanitasi dan kebersihan diri dan lingkungan kita. Konsumsilah makanan yang bergizi baik dan dalam jumlah yang cukup. Sekaligus konsumsi vitamin dan mineral tertentu sesuai anjuran dokter secara teratur.
  • Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Menurut pengamatan penulis, hal ini dapat dilihat adanya Gerakan bayi gerakan refluks oesefagial (hiccupps/cegukan) yang berlebihan sejak dalam kandungan terutama terjadi malam hari. Diduga dalam kedaaan tersebut bayi terpengaruh pencernaan dan aktifitasnya oleh penyebab tertentu termasuk alergi ataupun bahan-bahan toksik lainnya selama kehamilan. Bila gerakan bayi dan gerakan hiccups/cegukan pada janin yang berlebihan terutama pada malam hari serta terdapat gejala alergi atau sensitif pencernaan salah satu atau kedua orang tua. Sebaiknya ibu menghindari atau mengurangi makanan penyebab alergi sejak usia kehamilan di atas 3 bulan.
  • Hindari asap rokok, baik secara langsung atau jauhi ruangan yang dipenuhi asap rokok. Beristirahatlah yang cukup, hindari keadaan stres dan depresi serta selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.

PENCEGAHAN SAAT PERSALINAN

  • Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya.
  • Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak.
  • Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya Beberapa hal yang terjadi saat persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya perkembangan dan perilaku pada anak, sehingga harus diperhatikan : Melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan tentang rencana persalinan.
  • Dapatkan informasi secara jelas dan lengkap tentang resiko yang bisa terjadi selama persalinan.
  • Bila terdapat resiko dalam persalinan harus diantisipasi kalau terjadi sesuatu. Baik dalam hal bantuan dokter spesialis anak saat persalinan atau sarana perawatan NICU (Neonatologi Intensive Care Unit) bila dibutuhkan. Bila terdapat faktor resiko persalinan seperti : pemotongan tali pusat terlalu cepat, asfiksia pada bayi baru lahir (bayi tidak menangis atau nilai APGAR SCORE rendah

PENCEGAHAN SEJAK USIA BAYI

  • Setelah memasuki usia bayi terdapat beberapa faktor resiko yang harus diwaspadai dan dilakukan upaya pencegahannya. Bila perlu dilakukan terapi dan intervensi secara dini bila sudah mulai dicurigai terdapat gejala atau tanda gangguan perkembangan.
  • Adapun beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah : · Amati gangguan saluran cerna pada bayi sejak lahir.
  • Gangguan teresebut meliputi : sering muntah, tidak buang besar setiap hari, buang air besar sering (di atas usia 2 minggu lebih 3 kali perhari), buang air besar sulit (mengejan), sering kembung, rewel malam hari (kolik), hiccup (cegukan) berlebihan, sering buang angin. Bila terdapat keluhan tersebut maka penyebabnya yang paling sering adalah alergi makanan dan intoleransi makanan. Jalan terbaik mengatasi ganggguan tersebut bukan dengan obat tetapi dengan mencari dan menghindari makanan penyebab keluhan tersebut.
  • Gangguan saluran cerna yang berkepanjangan akan dapat mengganggu fungsi otak yang akhirnya mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak. · Bila terdapat kesulitan kenaikkan berat badan, harus diwaspadai. Pemberian vitamin nafsu makan bukan jalan terbaik dalam mengobati penderita, tetapi harus dicari penyebabnya · Bila terdapat kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, maka harus dilakukan perawatan oleh dokter ahli. Harus diamati tanda dan gejala autism secara cermat sejak dini. ·
  • Demikian pula bila terjadi gangguan neurologi atau saraf seperti trauma kepala, kejang (bukan kejang demam sederhana) atau gangguan kelemahan otot maka kita harus lebih cermat mendeteksi secara dini gangguan perkembangan. · Pada bayi prematur, bayi dengan riwayat kuning tinggi (hiperbilirubinemi), infeksi berat saat usia bayi (sepsis dll) atau pemberian antibiotika tertentu saat bayi harus dilakukan monitoring tumbuh kembangnya secara rutin dan cermat terutama gangguan perkembangan dan perilaku pada anak.
  • Bila didapatkan penyimpangan gangguan perkembangan khususnya yang mengarah pada gangguan perkembangan dan perilaku maka sebaiknya dilakukan konsultasi sejak dini kepada ahlinya untuk menegakkan diagnosis dan intervensi sejak dini.
  • Pada bayi dengan gangguan pencernaan yang disertai gejala alergi atau terdapat riwayat alergi pada orang tua, sebaiknya menunda pemberian makanan yang beresiko alergi hingga usia diatas 2 atau 3 tahun.
  • Makanan yang harus ditunda adalah telor, ikan laut, kacang tanah, buah-buahan tertentu, keju dan sebagainya. · Bayi yang mengalami gangguan pencernaan sebaiknya juga harus menghindari monosodium glutamat (MSG), amines, tartarzine (zat warna makanan), · Bila gangguan pencernaan dicurigai sebagai Celiac Disease atau Intoleransi Casein dan Gluten maka diet harus bebas casein dan Gluten,
  • Ciptakan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, hindari rasa permusuhan, pertentangan, emosi dan kekerasan. Bila terdapat faKtor resiko tersebut pada periode kehamilan atau persalinan maka kita harus lebih waspada. Menurut beberapa penelitian resiko tersebut akan semakin besar kemungkinan terjadi autism. Selanjutnya kita harus mengamati secara cermat tanda dan gejala autism sejak usia 0 bulan.
  • Bila didapatkan gejala autism pada usia dini, kalau perlu dilakukan intervensi sejak dini dalam hal pencegahan dan pengobatan. Lebih dini kita melakukan intervensi kejadian autism dapat kita cegah atau paling tidak kita minimalkan keluhan yang akan timbul. Bila resiko itu sudah tampak pada usia bayi maka kondisi tersebut harus kita minimalkan bahkan kalau perlu kita hilangkan. Misal kegagalan kenaikkan berat badan harus betul-betul dicari penyebabnya, pemberian vitamin bukan jalan terbaik untuk mencari penyebab kelainan tersebut.
  • Demikan pula gangguan alergi makanan dan gangguan pencernaan pada bayi, harus segera dicari penyebabnya. Yang paling sering adalah karena alergi makanan atau intoleransi makan, penyebabnya jenis makanan tertentu termasuk susu bayi. Pemberian obat-obat bukanlah cara terbaik untuk mencari penyebab gangguan alergi atau gangguan pencernaan tersebut. Yang paling ideal adalah kita harus menghindari makanan penyebab gangguan tersebut tanpa bantuan obat-obatan. Obat-obatan dapat diberikan sementara bila keluhan yang terjadi cukup berat, bukan untuk selamanya.

GROWTH DEVELOPMENT BEHAVIOR CLINIC Klinik Khusus Gangguan Tumbuh Kembang Dan Perilaku Anak GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252 email : judarwanto@gmail.com www.growupclinic.com

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Tumbuh Kembang Anak Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Copyright © 2014, GROWTH DEVELOPMENT & BEHAVIOUR ONLINE CLINIC. Information Education Network. All rights reserved